SURABAYA | harianduta.id - Menikah menggunakan prosesi adat ribet, rumit dan butuh biaya. Itulah gambaran yang kerap terbayang dalam pikiran calon pasangan pengantin. Namun dibalik keruwetan tersebut tersimpan makna mendalam yang akan menjadi kenangan sepanjang hidup.
Bagi Celtic Indonesia dua puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu bagi Celtic Indonesia, tetapi juga perjalanan penuh dedikasi dalam menghadirkan momen pernikahan yang berkesan bagi ribuan pasangan. Selama dua dekade, Celtic Indonesia telah berkembang menjadi wedding organizer yang dikenal melalui sentuhan personal, kreativitas tanpa batas, serta standar pelayanan yang profesional.
Berbekal pengalaman menangani berbagai konsep pernikahan— mulai dari intimate wedding, pernikahan adat, hingga resepsi berskala besar, bahkan pernah dengan tamu 15.000 orang. Celtic Indonesia senantiasa berupaya mewujudkan pernikahan yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi setiap pasangan, keluarga, hingga para tamu yang hadir.
"Dua puluh tahun pencapaian yang sangat berarti bagi kami. Di balik setiap pernikahan yang kami selenggarakan, terdapat cerita, harapan, dan kepercayaan yang menjadi tanggung jawab kami untuk diwujudkan dengan sepenuh hati. Terima kasih kepada seluruh pasangan, keluarga, venue, vendor, dan tim yang telah bertumbuh bersama Celtic Indonesia. Kami percaya, perjalanan terbaik masih ada di depan," ujar Soni Laksono, The Heart of Celtic
Indonesia.
Telah banyak acara yang ditangani Celtic dengan beragam konsep, adat istiadat dan budaya nasional Indonesia, tidak hanya di Sirabaya tapi juga di berbagai kota dan daerah di Indonesia, dari sabang sampai Marauke. Di tahun 2022 , setelah dihantam pandemic Covid 19, Celtic terus bertahan dan bertumbuh Kuat menjadi sebuah wedding Dan event organizer berskala
nasional.
Veni Laksono, The Soul of Celtic Indonesia bagian dari perayaan anniversary ke-20, Celtic Indonesia akan menghadirkan berbagai program spesial sepanjang tahun, mulai dari penawaran eksklusif bagi calon pengantin, kolaborasi dengan vendor-vendor premium, hingga kegiatan apresiasi yang melibatkan klien dan mitra bisnis yang telah menjadi bagian dari
perjalanan perusahaan.
Celtic Indonesia didirikan tahun 2006 oleh Veni Laksono & Soni laksono yang saat itu telah memiliki pengalaman dan keahlian dalam industry pernikahan dan event organizer lebih dari 10 tahun. Selama 20 tahun Celtic tumbuh dan berkembang menjadi wedding organizer yang menginspirasi banyak acara pernikahan di Indonesia, yang terbaru membuat acara akad nikah tanpa backdrop pelaminan di Jakarta hingga viral dimana-mana.
Bagi Veni Laksono, sosok yang dikenal sebagai the soul of Celtic Indonesia, perubahan cara pandang terhadap pernikahan menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, dalam budaya Indonesia, pernikahan selama ini menempati posisi penting sebagai salah satu dari tiga peristiwa besar dalam kehidupan, berdampingan dengan kelahiran dan kematian.
"Anak-anak muda sekarang banyak yang merasa bisa menjalani hidup tanpa menikah. Padahal dalam budaya Indonesia, pernikahan adalah salah satu momen paling sakral. Kami berharap nilai-nilai itu tetap bisa dijaga, termasuk melalui dukungan berbagai pihak," ujarnya.
Pengalaman menangani pernikahan internasional di China pada 2006-2008 justru mengubah arah perjalanan Celtic Indonesia. Mereka melihat prosesi pernikahan adat memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar seremoni.
Sejak saat itu, fokus mereka bergeser untuk mendalami dan melestarikan pernikahan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Komitmen tersebut membawa Celtic Indonesia dipercaya menangani beragam prosesi adat di berbagai wilayah, mulai dari Jawa hingga Makassar. Setiap daerah menghadirkan filosofi yang berbeda, mulai dari tata busana, ritual, hingga simbol-simbol yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah tren pesta yang semakin ringkas, mereka tetap meyakini bahwa adat bukanlah beban, melainkan identitas bangsa yang layak diwariskan. Soni Laksono, the heart of Celtic Indonesia, mengatakan setiap daerah memiliki cerita budaya yang unik melalui prosesi pernikahan.
Di Makassar, misalnya, tradisi siraman menggunakan air kelapa sebagai simbol penyucian. Sementara di Kalimantan, calon mempelai laki-laki dan perempuan berdiri berdampingan, berbeda dengan adat Jawa yang memisahkan keduanya dalam prosesi tertentu. Imm
"Setiap adat memiliki filosofi yang berbeda. Ada yang menggunakan air kelapa untuk siraman, ada juga tradisi yang mengharuskan penyembelihan tujuh kerbau atau penggunaan mahkota emas sebagai penanda status sosial. Semua itu menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia," kata Soni. Imm
Editor : Imam Ghozali