SURABAYA | harianduta.id - Seorang bidan dituntut juga memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship).
Jiwa kewirausahaan itu penting untuk mengembangkan profesi kebidanan di masa depan.
Baca juga: FK Unair Gandeng Guru Besar University of Melbourne
Program studi Kebidanan, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga (FK Unair) menyadari pentingnya hal itu.
Karenanya FK Unair Mewadahi mahasiswa prodi Kebidanan untuk bisa mengasah jiwa kewirausahaan itu melalui Midcare Expo. Di tahun ini ini, agenda tahunan itu bertema MidCare Expo: Midwifery Care Zone, Solusi Sehat Setiap Fase Kehidupan.
Dekan FK Unair, Prof. Dr. dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, Sp.OG., Subsp. Urogin-RE mengatakan bidan masa kini dan masa depan dituntut untuk berpikir lebih luas dan tidak hanya terpaku pada ranah pelayanan konvensional.
"Jadi harus punya jiwa wirausaha agar tidak terpaku pada pelayanan konvensional. Bidan bukan hanya membantu persalinan, memeriksa ibu hamil, memeriksa bayi tapi sudah harus punya usaha lain yang bisa meningkatkan profesi bidan l," jelasnya saat acara Midcare Expo 2026, Kamis (11/6/2026).
Prof Eighty mengapresiasi salah satu produk mahasiswa di ajang tersebut. Yakni media stimulasi anak yang dinamai "Sensa Play". Produk yang hadir dalam bentuk buku fisik (hard book) serta e-book ini berisi panduan resep permainan sensori yang dirancang khusus untuk balita.
"Buku ini sangat bagus, terlebih lagi sudah dilengkapi dengan versi e-book, sehingga proses pemasarannya akan jauh lebih mudah dan efektif melalui media sosial," puji Prof. Eighty.
Melalui MidCare Expo 2026, Prof Eighty berharap lulusan Kebidanan FK Unair tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja secara mandiri melalui pendirian Klinik atau Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang inovatif, solutif, dan berbasis pelayanan komplementer.
Implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan
Astika Gita Ningrum, M.Keb., selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJKM), menjelaskan pameran ini merupakan bagian dari luaran praktis mata kuliah Entrepreneur Ekonomi Kewirausahaan yang ditempuh oleh mahasiswa semester 6 Prodi Kebidanan.
Fokus utama dari pembelajaran ini adalah memotivasi mahasiswa agar berani memasuki ranah bisnis yang mendukung profesi mereka.
Dalam proyek ini, mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok yang mewakili setiap fase siklus hidup wanita, meliputi remaja, ibu hamil, ibu nifas, balita, hingga fase menopause.
Setiap kelompok didampingi oleh dosen pembimbing guna menciptakan produk inovatif yang dapat menjadi terapi komplementer dalam asuhan kebidanan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pembuatan gummies (permen kenyal) kaya zat besi, asam folat, dan vitamin B12 yang ditargetkan untuk remaja putri penderita anemia.
Astika memaparkan bahwa angka anemia pada remaja perempuan masih tinggi karena keengganan mengonsumsi tablet tambah darah konvensional yang dinilai kurang nikmat.
Padahal, anemia pra-konsepsi yang berlanjut hingga kehamilan berisiko memicu pendarahan saat persalinan serta meningkatkan angka kematian ibu dan bayi.
"Berangkat dari masalah tersebut, mahasiswa menciptakan gummies, puding, hingga pastry berbahan lokal seperti buah bit dan bayam merah yang dikemas secara kekinian dan disukai remaja," tambah Astika.
Metode Pilot Selling dan Riset Mendalam
Midcare Expo tahun ini tampil berbeda dan menunjukkan progres signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Pada edisi 2026 ini, mahasiswa diwajibkan melakukan pilot selling atau uji coba penjualan langsung kepada masyarakat umum, salah satunya di area Car Free Day (CFD) Taman Bungkul, sebelum produk dipamerkan di lingkungan kampus.
Proses pembuatan produk pun tidak dilakukan secara sembarangan. Mahasiswa wajib melewati tahapan Research and Development (R&D) yang ketat, khususnya untuk memastikan aspek keamanan pangan (safety) dan batas aman konsumsi.
Mereka melakukan uji ketahanan produk, baik dalam suhu ruang, lemari pendingin (chiller), maupun pembeku (freezer).
Melalui bimbingan intensif dari fasilitator, mahasiswa tidak hanya belajar menciptakan produk, tetapi juga dibekali kemampuan manajemen bisnis formal.
Seperti penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), Break-Even Point (BEP), hingga penentuan margin keuntungan. Berdasarkan evaluasi pasca kegiatan, seluruh kelompok berhasil membukukan profit.
Editor : endang