Renungan Asyuro

Dari Musholla di Kampung dan Gang, Kota Kediri Terus Nyalakan Api Ilmu Al Quran

Reporter : Redaksi
Imam W. Zarkasyi ST MM, Ketua Fraksi Golkar Kota Kediri. (ist)

Oleh : Imam W. Zarkasyi ST MM

LEBIH dari Sepekan lalu kita baru saja melewati Tahun Baru Hijriah. Hari ini, gantian Hari Asyura. Dua momentum besar berturutturut dalam waktusepuluh hari. Tapi saya curiga, buat kebanyakan kita, dua momentum ini lewat begitu saja—sekadar libur, sekadar status di WhatsApp, sekadar ucapan selamat tahun baru yang dikirim massal lalu dilupakan esok harinya.

Padahal, kalau direnungkan, ada momentum seberuntun ini jarang untuk kita pakai sebagai titik tolak. Bukan titik tolak yang muluk-muluk, tapi titik tolak yang sangat sederhana: bagaimana Al-Qur'an benar benar membumi di tengah kita, nyala api ilmunyabukan cuma hidup di rak buku atau di kenangan masa kecil saat ngaji di musholla.

Kita Punya Modal, Tapi Modal Itu Sering Tertidur 

Saya yakin, Njenengan yang sering keluar masuk masjid dan musholla di kampung-kampung Kota Kediri pasti merasakan hal yang sama: modal kita ini sebenarnya luar biasa besar. TPQ ada di hampir setiap kelurahan. Pesantren-pesantren besar berdiri kokoh—dan kita tahu betul Lirboyo dengan puluhan ribu santrinya bukan sekadar nama, tapi kekuatan riil yang bisa menggerakkan apa saja kalau diajak bicara dengan cara yang benar. Jaringan alumni Kampus Agama, alumni-alumni pesantren, para hafiz-hafizah, guru ngaji yang mengabdi tanpa pamrih bertahun-tahun—semua itu modal yang sudah ada, sudah lama ada, cuma kadang kita lupa mengaktifkannya bersama-sama.

Masalahnya bukan kita kekurangan orang yang bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Masalahnya, energi itu sering bergerak sendiri-sendiri. TPQ jalan sendiri. Pesantren jalan dengan ritmenya sendiri. Majelis taklim ibu-ibu jalan dengan agendanya sendiri. Padahal kalau energi-energi ini disatukan dalam satu momentum yangsama, dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekadar menjumlahkan masing-masing.

Asyura: Momentum yang Mengajarkan Soal Keberanian Memulai 

Kita tahu, Asyura identik dengan kisah Nabi Musa. Saya kira ada satu pelajaran yang sering kita lewatkan dari kisah itu: keberanian untuk memulai sesuatu meski belum kelihatan jalannya. Musa memukulkan tongkatnya ke laut sebelum tahu pasti laut itu akan terbelah. Itu bukan soal nekat, itu soal yakin pada pertolongan yang akan datang setelah kita berikhtiar sungguh-sungguh.

Saya kira spirit itu yang kita perlukan sekarang. Jangan menunggu sampai ada program besar yang sempurna, anggaran yang lengkap, atau struktur yang rapi dulu, baru kita mulai bergerak. Mulai saja dari yang kecil dan yang nyata: menghidupkan kembali TPQ yang mulai sepi santrinya, mengajak pesantrenpesantren besar untuk membuka diri sedikit lebih luas berbagi metode dan tenaga pengajarnya ke kampungkampung, atau sekadar menyatukan jadwal pengajian antar musholla supaya saling menguatkan, bukan saling bersaing momentum.

Santri, Bukan Penonton, Tapi Penggerak 

Ada satu hal yang menurut saya penting untuk kita tegaskan bersama: santri dan generasi muda pesantren itu jangan diposisikan sebagai penonton dari gerakan keagamaan di kota ini, tapi sebagai penggerak utamanya.

Selama ini, kalau kita jujur, banyak kegiatan keislaman di tingkat kota itu yang menggerakkan justru orangorang dewasa, sementara santri dan anakanak muda lulusan pesantren hanya jadi peserta atau penonton acara. Padahal mereka ini punya bekal ilmu agama yang jauh lebih kuat dibanding ratarata kita. Mestinya merekalah yang jadi ujung tombak: jadi tutor di TPQ kampungnya sendiri, jadi penggerak kajian pemuda masjid, jadi yang merancang konten dakwah di media sosial dengan bahasa anak muda yang lebih nyambung dengan zamannya.

Membumikan AlQur'an itu paling efektif kalau yang membumikan adalah orang yang sebaya dan dekat secara sosial dengan sasarannya. Anak SMP lebih mudah diajak ngaji serius oleh kakak santri yang baru lulus pesantren ketimbang oleh ustaz sepuh yang jaraknya terlalu jauh secara usia dan pengalaman hidup.

Maka, Mari Kita Mulai dari Hal-Hal Ini 

Berangkat dari renungan di atas, ada beberapa langkah konkret yang menurut saya bisa segera kita gerakkan bersama, dimulai dari momentum Muharram-Asyura tahun ini:

Pertama, konsolidasi jaringan TPQ dan mushollaper kelurahan. Sebelum bicara program besar, kita perlu tahu dulu peta riil: TPQ mana yang masih ramai, mana yang santrinya menyusut, mana yang kekurangan tenaga pengajar. Forum-forum takmir masjid dan musholla bisa mulai memetakan ini bersama, supaya bantuan tenaga dan sumber daya bisa disalurkan ke yang paling membutuhkan, bukan menumpuk di yang sudah ramai.

Kedua, libatkan santri dan alumni pesantren sebagai tenaga penggerak, bukan sekadar peserta. Pesantrenpesantren besar di Kediri punya ribuan santri yang sebagiannya bisa diajak mengabdi—sekadar satu-dua jam seminggu—mengajar di TPQ kampung atau mendampingi remaja masjid. Ini bisa diformat sebagai program pengabdian santri yang juga melatih kemampuan mengajar mereka sendiri.

Ketiga, satukan kalender kegiatan keislaman tingkat kota. Kalau setiap masjid, musholla, dan ormas Islam punya kalender kegiatan sendiri-sendiri, energinya tercerai-berai. Coba dibuat semacam kalender bersama—musim Muharram untuk konsolidasi TPQ, musimRamadhan untuk intensifikasi tilawah dan tahfiz, dan seterusnyasehingga gerakan terasa serentakdan saling menguatkan.

Keempat, hidupkan kembali ruang silaturahmi antar elemen. Pesantren, takmir masjid, forum alumni Kampus, dan ormas-ormas keislaman perlu lebih sering duduk bersama, bukan hanya bertemu saat acara seremonialForum silaturahmi rutin—sebulan atau dua bulan sekali—bisa jadi tempat berbagi masalah dan solusi, sekaligus tempat lahirnya gagasan-gagasan baru yang lebih segar.

Kelima, manfaatkan momentum tahunan secara konsisten, bukan musiman. Muharram dan Asyura ini bagus sebagai titik nyala, tapi semangatnya jangan berhenti begitu bulan ini lewat. Perlu komitmen bersama bahwa apa yang dimulai di Muharram ini dievaluasi dan dilanjutkan, bukan jadi seremoni tahunan yang habis begitu Safar tiba.

Tongkat Itu Ada di Tangan Kita Semua 

Kita tidak perlu menunggu siapa pun untuk memulai ini. Tongkat itu ada di tangan kita semua—di tangan takmir musholla, di tangan pengurus TPQ, di tangan santri yang baru boyong dari pesantren, di tangan ibu-ibu majelis taklim, di tangan siapa saja yang merasa punya tanggung jawab moral terhadap masadepan keberagamaan anak-anak Kota Kediri.

Asyura mengajarkan, pertolongan itu datang setelah ada yang berani memulai. Maka mari, dari musholla kampung kita masing-masing, kita mulai lagi. Bukan untuk yang besar dan megah, tapi untuk yang sederhana dan istiqomah: Al-Qur'an yang benar benar hidup, dibaca, dipahami, dan diamalkan oleh anakanak Kota Kediri, hari ini dan seterusnya.

Selamat menyambut Asyura. Mari mulai gerakan dari langkah yang paling dekat dengan kita. Siap menjalankan? Ayooo

*Paklek Imam sapaan akrab Imam Wihdan Zarkasyi untuk pembaca harianduta.id

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru