Purna Tugas dari PBNU, Gus Yahya Perkuat Kiprah Internasional

Reporter : Abd Aziz
Gus Yahya (tengah) saat bertemu dengan jajaran Yayasan Anugerah Nusantara Al-Mubarokah (YANMU), Senin (31/8/2026).

JOMBANG I harianduta.id - K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya akan kembali memperkuat kiprahnya di panggung internasional setelah purna tugas sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026.

Selepas dari kepengurusan PBNU, Gus Yahya akan memfokuskan kiprahnya pada penguatan dialog lintas agama serta pengembangan gerakan Humanitarian Islam atau Islam Kemanusiaan. Agenda tersebut akan dijalankan melalui sejumlah lembaga yang selama ini didirikannya.

Di antaranya adalah Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama dan Bayt ar-Rahmah Li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-’Alamin.

CSCV selama ini berperan sebagai sekretariat permanen yang mengelola pergerakan global Religion of Twenty (R20). Forum tersebut mempertemukan para pemimpin agama dan tokoh dunia untuk membangun dialog serta menemukan nilai-nilai bersama dalam kehidupan antarperadaban.

Gus Yahya juga tercatat sebagai salah satu pendiri Bayt ar-Rahmah, yayasan keagamaan global yang berbasis di Amerika Serikat.

“Selain CSCV, saya juga merupakan pendiri dari yayasan keagamaan global berbasis di Amerika Serikat bernama Bayt ar-Rahmah,” kata Gus Yahya saat bertemu dengan jajaran Yayasan Anugerah Nusantara Al-Mubarokah (YANMU), Senin (31/8/2026).

Menurut Gus Yahya, kedua lembaga nirlaba tersebut selama ini menjadi bagian dari jejaring yang bekerja sama dengan PBNU untuk mengembangkan agenda Humanitarian Islam sekaligus memperluas ruang dialog para pemimpin agama dunia.

“Yayasan yang didirikan oleh saya, yang bertindak sebagai sekretariat permanen untuk mengurusi dan mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20), adalah Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama,” ujarnya.

Melalui jejaring tersebut, Gus Yahya ingin mempertemukan berbagai tradisi keagamaan dalam ruang dialog yang lebih luas. Dialog tidak hanya diarahkan pada persoalan keagamaan, tetapi juga menyentuh isu kemanusiaan, perdamaian, dan masa depan peradaban.

Langkah tersebut akan kembali diperkuat melalui sejumlah agenda internasional. Gus Yahya mengungkapkan dirinya akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada akhir tahun untuk bertemu dengan sejumlah tokoh lintas agama.

“Desember bertolak ke Amerika untuk serangkaian kunjungan dan dialog dengan sejumlah tokoh antaragama,” kata Gus Yahya.

Di sisi lain, Yayasan Anugerah Nusantara Al-Mubarokah (YANMU) memastikan kerja sama dengan Gus Yahya tetap berlanjut setelah dirinya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Kolaborasi tersebut terutama diarahkan pada berbagai program yang berkaitan dengan kemaslahatan umat.

“Kita akan teruskan kerja sama program-program dengan Gus Yahya,” ujar Wakil Ketua Umum YANMU, Syahdhana H Baswara.

YANMU merupakan lembaga filantropi dan kemanusiaan yang bergerak dalam sejumlah program sosial, kesehatan, serta dakwah.

Dengan berlanjutnya kolaborasi tersebut, kiprah Gus Yahya selepas dari PBNU tidak berhenti pada forum-forum internasional. Jejaring yang telah dibangun juga akan tetap diarahkan untuk memperkuat kerja-kerja kemanusiaan dan memberikan kemanfaatan langsung bagi masyarakat.

Kiprah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan di tubuh PBNU tidak serta-merta mengakhiri ruang pengabdian para tokohnya. Bagi Gus Yahya, panggung dialog antaragama dan agenda Humanitarian Islam menjadi ruang lanjutan untuk membawa gagasan Islam yang menempatkan kemanusiaan, perdamaian, dan kehidupan bersama sebagai perhatian utama.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru