Kyai dan Santri: Energi Besar untuk Indonesia Maju

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Prof. Abdul Mongid (dok/harianduta.id)
Prof. Abdul Mongid (dok/harianduta.id)

i

Oleh : Prof. Abdul Mongid

Guru Besar FEB UNESA, PP Jaringan Kyai dan Santri Nasional

Kita akan merayakan kemerdekaan Indonesia ke 81 bulan ini. Saatnya sekarang kita melihat peran Kyai dan Pesantren dalam perjuangan menuju Indonesia Merdeka. Dalam lintasan sejarah Indonesia, pesantren merupakan institusi sosial-keagamaan yang paling konsisten menjaga jarak dari kekuasaan kolonial dan menjadi basis perlawanan terhadap penjajahan. Di tengah berbagai dinamika politik yang membuat sebagian kelompok memilih berkompromi dengan pemerintah kolonial, para kiai tetap menanamkan semangat kemerdekaan melalui pendidikan, dakwah, dan perjuangan langsung di medan perang. Karena itu, sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari sejarah pesantren. Kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh kaum nasionalis di arena politik, tetapi juga oleh para ulama dan santri yang menjadikan perjuangan melawan penjajah sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama.

Berdasar catatan penulis saat ini sudah ada 13 kyai yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Yang terakhir adalah KH Abdul Chalim dari Majalengka. Beliau adalah ayahanda Prof KH Asep Saifudin Chalim pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. KH. Abdul Chalim (1888–1972) merupakan salah satu ulama yang berperan penting dalam menghubungkan gerakan pendidikan Islam dengan perjuangan kebangsaan. Beliau adalah Ulama pejuang, pelopor pendidikan berbasis kemandirian, tokoh Nahdlatul Wathan, dan Juga pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau aktif membangun kesadaran kebangsaan dan memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan, dakwah, dan organisasi.

Pada 14–16 Februari 2026, Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) menggelar Silaturahim Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Surabaya. Tema yang diangkat salah satunya pemberdayaan ekonomi umat. JKSN diharapkan mampu memperkokoh jaringan kelembagaan, memperluas kolaborasi lintas daerah, serta menegaskan komitmen terhadap Islam moderat (ummatan wasatha), kebangsaan, dan persatuan Indonesia. Di kota yang menjadi saksi heroisme 10 November 1945, para kyai dan santri kembali berkumpul—bukan untuk mengangkat senjata, tetapi untuk merumuskan arah perjuangan baru bagi bangsa. Surabaya dipilih karena keistimewaan Sejarah yang telah terjadi. Kota ini adalah simbol keberanian, pengorbanan, dan persatuan. Maknanya adalah JKSN ingin menggugah semangat jihad kebangsaan agar harus terus hidup meskipun medan juangnya telah berubah.

Bukti Sejarah

Jaringan para kyai dan santri sejak dahulu merupakan kekuatan sosial yang unik, kuat namun sering diabaikan. Relasi kyai dan lahir dari hubungan keilmuan, adab, dan pengabdian. Berbeda dengan ikatan dosen dan mahasiswa, kyai dan santri tidak terputus oleh waktu maupun jarak. Santri yang sudah “boyong” (lulus) biasanya kembali ke kampung halaman. Mereka lalu mendirikan pesantren baru, mengajar, berdakwah, atau mungkin mendirikan bisnis atau usaha. Namun relasi dengan almamater pondok tetap terjadi secara riil dan terus menjadi bagian dari mata rantai besar transmisi ilmu dan nilai nilai luhur almamater. Inilah jaringan sosial-keagamaan yang selama ratusan tahun menjaga Islam moderat, memperkuat kohesi sosial, dan ikut membentuk kejiwaan bangsa Indonesia.

Pada masa penjajahan Belanda, pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga simpul perlawanan. Pemerintah kolonial  sadar betul bahwa jika kyai dan santri bersatu secara nasional, kekuatan itu akan menjadi ancaman serius. Karena itulah dilakukan pengawasan, pembatasan, dan politik pecah yang masif dan terstruktur. Apalagi pada awal abad 19 ada gerakan sadar nasionalisme anti-penjajahan yang tumbuh di Makkah pada awal 1900-an merupakan salah satu akar penting pergerakan kemerdekaan Indonesia. Saat itu kota Makkah adalah pusat intelektual dan pertemuan bagi jamaah haji serta pelajar dari Nusantara, yang kemudian mengadopsi semangat Pan-Islamisme dan pembaruan Islam untuk melawan imperialisme Belanda. Belanda sadar bahwa loyalitas para santri kepada kyai, jaringan pesantren yang tersebar luas, dan pengaruh moral ulama di tengah masyarakat adalah energi sosial yang luar biasa.

Puncaknya terjadi pada peristiwa 10 November 1945. Resolusi Jihad yang diserukan para ulama membakar semangat rakyat Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Santri dan laskar-laskar Hizbullah serta Sabilillah turun ke medan tempur. Surabaya menjadi simbol bahwa ketika kyai dan santri bergerak bersama, lahirlah gelombang Sejarah perlawanan tak terbendung.

Medan Baru

Namun hari ini, tantangan bangsa bukan lagi penjajah bersenjata. Musuh kita sudah berbeda bentuk dan manisfestasinya namun tak berarti kurang berbahaya. Musuh itu saat ini wujudnya adalah kemiskinan, ketimpangan ekonomi, keterbelakangan pendidikan, dan ketidakadilan akses terhadap peluang kemajuan. Penjajahan sudah tidak lagi berbentuk fisik, melainkan menjadi struktural dan sistemik sehingga lebih membelenggu. Karena itu, bentuk perjuangan para kyai dan santri harus bertransformasi dalam bentuk baru.

Di sinilah relevansi Kongres JKSN. Konsolidasi nasional para kyai dan santri adalah kebutuhan zaman. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yaitu sekitar 240 juta jiwa jelas memiliki modal demografis yang luar biasa. Dengan lebih dari 42.000 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dan jutaan santri yang sedang menempuh pendidikan, pesantren adalah kekuatan riil bangsa. Menurut Wakil Presiden, saat ini ada 11 juta santri. Ini semua adalah aset strategis untuk membangun Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berakhlak mulia.

Pertanyaannya adalah energi besar umat islam ini akan diarahkan ke mana?.  Jawabannya jelas yaitu diarahkan untuk kebangkitan ekonomi umat dan pembangunan nasional. Pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak institusi lain: jaringan sosial yang kuat, kepercayaan publik yang tinggi, dan kedekatan dengan masyarakat. Modal sosial ini adalah fondasi kokoh untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas. Kemandirian ekonomi pesantren bukan hanya penting bagi keberlangsungan lembaga, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional dan pembangunan sosial.

Pengembangan ekonomi pesantren harus dibangun di atas tiga fondasi utama: kemandirian, keberlanjutan, dan pemberdayaan. Unit usaha pesantren tidak boleh sekadar mengejar keuntungan jangka pendek. Ia harus dirancang untuk tumbuh secara berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan santri, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Dalam praktiknya, pesantren dapat memainkan peran ganda bahkan tiga sekaligus: sebagai produsen, distributor, dan konsumen internal. Sebagai produsen, pesantren dapat mengembangkan berbagai usaha seperti pertanian, peternakan, industri halal, hingga ekonomi kreatif digital. Sebagai distributor, pesantren memanfaatkan jejaring alumni dan komunitas untuk memperluas pasar. Sementara sebagai konsumen internal, pesantren menyerap produk sendiri sehingga tercipta siklus ekonomi mandiri. Jika dikelola secara profesional, ekosistem ini akan memperkuat ketahanan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya.

Tentu saja, semua itu harus dilandasi nilai luhur. Pesantren memiliki keunggulan moral yang tidak boleh ditinggalkan. Keislaman menjadi fondasi etis, profesionalisme menjamin kualitas dan daya saing, sementara etika bisnis syariah memastikan keadilan, transparansi, dan keberkahan. Inilah kombinasi antara nilai dan kinerja—antara ruh islami dan manajemen modern.

Kongres JKSN di Surabaya hendaknya menjadi titik tolak lahirnya gerakan ekonomi santri yang terkoordinasi secara nasional. Kolaborasi lintas daerah, kemitraan dengan pemerintah dan dunia usaha, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan kapasitas manajerial harus menjadi agenda bersama. Kita membutuhkan lebih banyak santri yang menjadi entrepreneur, inovator, dan pemimpin ekonomi yang berilmu dan berakhlak.

Kita harus yakin jika masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau investasi asing, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Jujur saja pesantren telah lama menjadi penghasil manusia dengan karakter nasional. Jika para santri ini dibekali dengan kompetensi ekonomi dan profesionalisme, maka lahirlah generasi santri yang tangguh, adaptif, dan visioner. Saatnya santri bukan sekedar penjaga tradisi namun juga pelopor inovasi. Saatnya pesantren tidak hanya menjadi pusat “tafaqquh fiddin” namun juga pusat transformasi ekonomi dan bisnis. Dengan persatuan nasional, profesionalisme, dan komitmen moral, kita berharap para kyai dan santri dapat menjadi lokomotif Indonesia yang adil, sejahtera, dan bermartabat. (*)

Berita Terbaru

Beri Beasiswa Siswa Peraih Medali Emas LKS Nasional 2026

Beri Beasiswa Siswa Peraih Medali Emas LKS Nasional 2026

Kamis, 06 Agu 2026 16:51 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 16:51 WIB

KEDIRI|harianduta.id-Membanggakan,capaian yang diraih Moh. Hamzah Risqi, pelajar SMK Kartanegara Wates Kabupaten Kediri di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS)…

KPK Sita Aset Diduga Milik Tersangka Korupsi Gedung Pemkab Lamongan

KPK Sita Aset Diduga Milik Tersangka Korupsi Gedung Pemkab Lamongan

Kamis, 06 Agu 2026 16:35 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 16:35 WIB

LAMONGAN | harianduta.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Gedung Pemerintah K…

Warga Brengkok Laporkan Kades ke Kejari Lamongan

Warga Brengkok Laporkan Kades ke Kejari Lamongan

Kamis, 06 Agu 2026 16:24 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 16:24 WIB

LAMONGAN | harianduta.id – Sejumlah warga Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan, Kamis (…

Antusias Ikuti Layanan Tera Ulang Jemput Bola

Antusias Ikuti Layanan Tera Ulang Jemput Bola

Kamis, 06 Agu 2026 16:20 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 16:20 WIB

KEDIRI|harianduta.id-Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian kembali menggelar sidang Tera dan Tera Ulang 2026 dengan metode jemput…

Pak Yes Tekankan Peran Ayah Dalam Pengasuhan

Pak Yes Tekankan Peran Ayah Dalam Pengasuhan

Kamis, 06 Agu 2026 16:13 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 16:13 WIB

LAMONGAN | harianduta.id  - Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan pentingnya kehadiran seorang ayah dalam membangun keluarga yang kuat sebagai fondasi …

Bupati Yes Minta Adopsi Inovasi Biopori KKN di Lamongan

Bupati Yes Minta Adopsi Inovasi Biopori KKN di Lamongan

Kamis, 06 Agu 2026 05:26 WIB

Kamis, 06 Agu 2026 05:26 WIB

LAMONGAN | harianduta.id - Bupati Lamongan Yuhronur Efendi tertarik terhadap Gerakan Biopori, yakni karya dan inovasi para mahasiswa. Ini disampaikan saat Pak…