SURABAYA | harianduta.id - Sejak sore habis magrib, ratusan muda mudi mulai berdatangan ke Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Geliat dan semangat terlihat dari wajah meriah untuk mendukung dan menyaksikan Teater Wilwatikta Surabaya mementaskan lakon "Samaleak" di Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu (11/7/2026) pukul 20.00 WIB.
Tak ayal sampai menjelang pementasan dimulai, masih banyak mudi mudi yang datang kusus menyaksikan pementasan Teater yang dilakonkan oleh anak-anak muda dari Teater Wilwatikta Surabaya. Dan benar saja kapasitas Gedung Kesenian Cak Durasim penuh, kapasitas 407 tempat duduk dan 93 yang terpaksa mau duduk di lantai membuat pementasan terasa spesial karena mendapatkan dukungan penuh dari penonton yang mayoritas anak muda.
Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian Manajemen Talenta Teater 2026 #2, program pembinaan yang digagas UPT Taman Budaya Jawa Timur untuk melahirkan regenerasi seniman teater sekaligus menarik minat Generasi Z terhadap seni pertunjukan berbasis budaya lokal.
Lakon yang disutradarai Mustaghfirin Nazhmi tersebut menjadi satu dari enam karya terbaik yang lolos seleksi program. Sebelumnya, sebanyak 12 kelompok teater mengikuti proses audisi, pendalaman naskah, hingga workshop intensif bersama akademisi, praktisi, dan kurator teater profesional.
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Hariyono mengatakan hanya enam kelompok yang dinyatakan layak tampil di panggung utama Gedung Kesenian Cak Durasim. Enam kelompok tersebut merupakan hasil saringan dari puluhan kelompok dari kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Program Manajemen Talenta Teater dirancang sebagai wadah pembinaan berkelanjutan bagi pelaku seni muda di Jawa Timur. Menurutnya, seni budaya daerah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap diminati generasi muda. “
Dedy menambahkan antusiasme seniman di seluruh Kabupaten/Kota di Jatim sangat bagus. Terbukti terkumpul puluhan kelompok yang mendaftar dan masuk dalam kurasi. Dari jumlah tersebut mengerucut menjadi enam kelompok yang siap unjuk karya menampilkan karya terbaiknya.
"Tentu saja setelah ada pembenahan dari tim kurator yang ditunjuk. Kami ingin melahirkan regenerasi seniman teater di Jawa Timur. Melalui kurasi, master class, hingga pementasan, para talenta muda dibimbing agar memiliki kualitas artistik sekaligus mampu mengangkat seni tradisi dengan konsep yang relevan bagi Generasi Z," ujar Deddy.
Ia menambahkan, enam kelompok yang lolos berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Banyuwangi, Sidoarjo, dan Bojonegoro. Seluruh peserta didampingi kurator berpengalaman sebelum tampil di hadapan publik sebagai bagian dari proses menuju seniman profesional.
Kurator Joko Porong menilai program ini membuka ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk menghadirkan gagasan baru dalam dunia teater. Jenis kesenian yang ditampilkan beragam, tidak harus spesifik tertentu karena senin sifatnya terbuka dan sangat luas.
“Yang dipilih ditekankan pada gagasan yang fresh dan SDM,” jelasnya.
Sementara itu, kurator Luhur Kayungga menekankan pentingnya mengembangkan identitas lokal dalam setiap karya. Masing-masing daerah punya cirikhas lokalan yang sangat kuat dan menjadi daya tarik buat penonton secara luas.
“Kelompok teater di Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi fondasi lahirnya konsep-konsep pertunjukan baru tanpa harus bergantung pada pendekatan teater Barat.”
Pementasan "Samaleak" melibatkan para pemain utama, yakni Annisa, Akbar, Gepeng, Galih Wahyu, dan Roby, didukung puluhan kru artistik, musik, tata cahaya, hingga tata rias. Selain menjadi tontonan bagi masyarakat, pertunjukan ini diharapkan menjadi bukti nyata hasil pembinaan talenta teater di Jawa Timur sekaligus memperkuat ekosistem seni pertunjukan yang berkelanjutan.
Jika diinginkan, naskah ini juga dapat dibuat dengan angle yang lebih menonjolkan "Generasi Z jadi harapan baru penyelamat teater tradisional Jawa Timur" agar lebih kuat dari sisi pencarian dan daya tarik penonton. Imm
Editor : Redaksi