Muktamar NU ke-35 Teguhkan Sinergi Ulama dan Umara

Reporter : Abd Aziz
Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, KH Hasib Wahab Chasbullah (Gus Wahib)

JOMBANG I harianduta.id — Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, berlangsung khidmat dan sarat makna sejarah. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dihadiri langsung Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih, ulama sepuh, serta sejumlah tokoh nasional.

Momentum tersebut menjadi istimewa bagi keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Kehadiran para pemimpin negara di tengah perhelatan Muktamar ke-35 NU dinilai kembali menegaskan hubungan erat antara perjuangan keagamaan dan kebangsaan yang sejak awal menjadi bagian penting dari sejarah NU.

Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, KH Hasib Wahab Chasbullah atau Gus Wahib, mengatakan kehadiran para pemimpin bangsa di Tambakberas memperkuat kembali doktrin perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, salah seorang pendiri NU.

Menurut Gus Wahib, Mbah Wahab sejak dahulu menanamkan pemahaman kepada putra-putrinya dan seluruh warga Nahdliyin bahwa Islam dan negara memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Doktrin Mbah Wahab kepada putra-putri dan seluruh warga NU adalah bahwa negara dan Islam tidak bisa dipisahkan. Bagaikan dua sisi mata uang logam yang menyatu dan saling melengkapi," kata Gus Wahib, Kamis (27/8/2026).

Pandangan tersebut, lanjut Gus Wahib, tercermin dalam kecintaan warga NU terhadap Tanah Air melalui prinsip hubbul wathan minal iman. Komitmen untuk mendukung pemerintahan yang sah juga menjadi sikap yang terus dijaga warga NU dari masa ke masa, mulai era Presiden Soekarno hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bagi Gus Wahib, relasi antara agama dan negara bukan sekadar persoalan politik, melainkan bagian dari upaya menjaga kedamaian, ketenteraman, dan keutuhan bangsa sebagaimana tuntunan ajaran Islam.

Ia juga mengingatkan kembali doktrin yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya dua kelompok dalam menentukan baik buruknya kehidupan masyarakat, yakni ulama dan umara.

"Ada hadis nabi yang menjadi doktrin Kiai Wahab, yaitu tentang dua golongan. Apabila dua golongan ini baik, maka baiklah rakyatnya. Begitu pula sebaliknya. Dua golongan itu adalah ulama dan umara. Maka dari itu, ulama dan umara harus bersatu," jelasnya.

Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU. Forum yang digelar di lingkungan pesantren tersebut tidak hanya mempertemukan para ulama dan kader NU dari berbagai daerah, tetapi juga menghadirkan unsur penting kepemimpinan nasional.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah tokoh nasional turut hadir mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Di antaranya Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, serta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Sejumlah pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga hadir, antara lain Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, dan Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh.

Dari unsur pemerintahan, hadir Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menko PMK Muhaimin Iskandar, Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Menteri PPPA Arifah Fauzi.

Hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu'ti, Menkomdigi Meutya Hafid, Mensesneg Prasetyo Hady, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Dari unsur organisasi kemasyarakatan Islam, tampak pula Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Pertemuan berbagai unsur tersebut memberi warna tersendiri bagi pembukaan Muktamar ke-35 NU. Pesan yang muncul bukan semata tentang dinamika organisasi, tetapi juga tentang pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara ulama dan pemerintah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari Tambakberas, pesan persatuan itu kembali ditegaskan. Sinergi ulama dan umara diharapkan tetap menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kedaulatan, ketenteraman, persatuan, serta kemajuan Indonesia.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru