Toco Academy Vol. 3

Dorong UMKM Lebih Jeli dan Cerdas Memilih Jualan di Marketplace

Reporter : Imam Ghozali
Sesi Toco Overview di ajang Toco Academy Volume 3 di Surabaya. (tengah) Founder CEO Toco, Arnold Sebastian Egg, (kanan) Reinty Dyan,Key Account Executive JNE dan Om Botak ( Marketplace Expert). (dok/duta.co)

SURABAYA | harianduta.id - Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) perlu didorong dan diberi wadah untuk berkembang. Potensi pasar yang masih terbuka luas, mulai pasar regional, nasional bahkan global memberi peluang kesempatan bagi UMKM Indonesia untuk memperluas pasarnya.

Dan Toco, Marketplace lokal Indonesia kembali menggelar program edukasi bagi pelaku usaha melalui Toco Academy Vol. 3. Kegiatan tersebut berlangsung di Teluk Buli Catering, Surabaya, Rabu (26/8).  Topik yang dibahas dalam Toco Academy Vol. 3 berbagai tantangan dan strategi yang dihadapi pelaku usaha dalam mengembangkan penjualan secara digital.

Founder & CEO Toco.id Arnold Sebastian mengatakan, edukasi kepada seller menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perdagangan digital yang lebih sehat. Menurut dia, pelaku usaha tidak hanya membutuhkan tempat untuk berjualan, tetapi juga dukungan agar dapat mengelola bisnis secara lebih efisien.

“Harapannya bagaimana kita bisa membuat jualan online menjadi nyaman kembali, tidak banyak potongan dan membantu UMKM untuk berkembang dan berjualan di marketplace” kata Arnold dalam perbincangannya dengan media.

Arnold menilai salah satu persoalan yang banyak dirasakan pelaku usaha di marketplace adalah besarnya biaya yang harus ditanggung seller. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha harus menghitung ulang margin agar tetap dapat menjalankan bisnisnya.

Ia mengatakan, Toco berupaya menawarkan pendekatan berbeda dengan menekan beban biaya transaksi bagi seller. Hal itu, menurut Arnold, diharapkan dapat memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis sekaligus memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen.

“Kalau merchant marketing-nya happy, seharusnya customer juga happy. Merchant bisa memberikan lebih banyak waktu dan pelayanan kepada customer karena memiliki margin yang lebih baik,” ujarnya.

Arnold mengatakan, pertumbuhan Toco juga terus berjalan seiring bertambahnya pelaku usaha yang bergabung. Namun, pihaknya mengaku tidak ingin hanya mengejar pertumbuhan transaksi atau GMV.

Menurut dia, salah satu indikator penting adalah memastikan pesanan yang masuk dapat diproses dan diterima konsumen dengan baik. “Yang paling utama bagi kami adalah berapa banyak pesanan yang setiap hari masuk dan bisa sampai tujuan serta diterima dengan baik,” katanya.

Selain marketplace, Toco juga tengah mengembangkan ekosistem perdagangan yang memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan komunitas dan kanal penjualan mereka sendiri. Konsep tersebut dinilai dapat memberikan alternatif bagi seller untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumennya.

Menurut Arnold, Toco juga membuka peluang pengembangan dukungan bagi pelaku usaha yang menjalankan bisnis secara daring maupun luring. Dengan demikian, seller tidak hanya bergantung pada satu kanal penjualan.

Tantangan Biaya Marketplace di Indonesia

Marketplace Expert Jonathan Kho (Om Botak) mengatakan persaingan bisnis digital saat ini semakin ketat, tidak sehat dan tidak memguntungkan pelaku UMKM. Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian seller adalah akumulasi biaya yang muncul dari berbagai komponen transaksi.

Menurut dia, selain biaya administrasi, seller juga harus memperhitungkan program promosi, subsidi ongkos kirim, iklan hingga biaya afiliasi. Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, beban yang ditanggung pelaku usaha dapat cukup besar. “Kalau secara admin memang sangat berdarah-darah. Biaya potongan dasar ditambah program-program dan ongkir bisa cukup besar, belum termasuk biaya iklan dan affiliate,” kata Jonathan.

Ia mencontohkan kondisi tersebut dapat semakin terasa bagi distributor yang memiliki margin terbatas. Berbeda dengan pemilik merek atau produsen yang memiliki ruang margin lebih besar, distributor harus berhitung lebih cermat agar tidak mengalami kerugian ketika berjualan melalui marketplace.

Jonathan juga melihat kebiasaan konsumen Indonesia yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha ketika ingin mengalihkan transaksi ke kanal milik sendiri, seperti website atau aplikasi. “Di Indonesia, masyarakat sudah sangat nyaman berbelanja melalui marketplace. Untuk mengubah kebiasaan itu tentu tidak mudah,” ujarnya.

JNE Siapkan Dukungan Logistik

Dalam kesempatan yang sama, Key Account Executive JNE Reinty Dyan menjelaskan dukungan sektor logistik menjadi bagian penting dalam perkembangan perdagangan digital.

Ia mengatakan JNE memiliki berbagai layanan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha, mulai dari pengiriman reguler hingga layanan logistik yang lebih terintegrasi.

Selain layanan pengiriman, JNE juga memiliki solusi warehouse management system (WMS) untuk membantu pengelolaan dan pemantauan stok barang di gudang. JNE juga mengembangkan layanan fulfillment yang memungkinkan produk disimpan di gudang dan diproses ketika terjadi pesanan dari konsumen. Sistem tersebut dapat terintegrasi dengan proses rantai pasok sehingga pengelolaan pesanan dapat dilakukan secara lebih efisien.

Reinty mengatakan, kebutuhan logistik dalam ekosistem perdagangan digital terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas seller di marketplace maupun kanal penjualan lainnya.

Menurut dia, JNE juga melihat adanya peluang pertumbuhan pada segmen non-marketplace. Sebagian pelaku usaha mulai mempertimbangkan kanal penjualan sendiri setelah menghadapi berbagai kebijakan dan biaya di platform marketplace.

“Pertumbuhannya cukup signifikan. Ada seller yang mulai mengalihkan sebagian penjualannya ke kanal sendiri karena merasa keberatan dengan kebijakan yang ada di marketplace,” kata Reinty.

Melalui Toco Academy Vol. 3, Toco berharap pelaku usaha tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai cara berjualan secara digital, tetapi juga memahami pengelolaan bisnis secara lebih menyeluruh, mulai dari biaya, pemasaran, komunitas hingga logistik.

Program edukasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem marketplace lokal yang memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk tumbuh secara berkelanjutan. (imm)

Editor : Imam Ghozali

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru