JOMBANG I harianduta.id – Calon Ketua Umum PBNU KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf memiliki tekad menjadikan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sebagai momentum mengakhiri konflik internal yang dinilai telah berlangsung selama lima tahun terakhir.
Gus Yusuf menyebut sedikitnya 235 PCNU telah terkoordinasi dan berada dalam barisan yang ia sebut sebagai poros perubahan. Mereka, memiliki tekad yang sama untuk mendorong muktamar yang bersih, demokratis, dan mampu menghasilkan solusi atas berbagai persoalan internal NU.
“Yang kedua adalah ini juga menjadi peneguhan sikap dan tekad PC-PCNU yang bersama kita. Ada 235 PC yang bersama kita untuk kembali bertekad menjadikan muktamar ini muktamar yang solutif, muktamar yang menyelesaikan konflik,” kata Gus Yusuf, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, perubahan di tubuh NU tidak cukup hanya dengan wacana. Ia menegaskan kemenangan menjadi syarat untuk mewujudkan agenda tersebut.
“Untuk mensukseskan itu semua tidak ada kata lain selain menang. Kita harus menang untuk menegakkan kebenaran. Kita harus menang untuk meluruskan jalan. Syaratnya hanya satu: menang,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan.
Gus Yusuf juga menyerukan agar seluruh proses Muktamar NU ke-35 dikembalikan pada aturan dasar organisasi. Ia menolak jika persyaratan pencalonan digunakan sebagai instrumen untuk menghalangi kader tertentu maju dalam kontestasi.
“Maka mari kita selesaikan konflik ini secara konstitusional. Jangan lagi ada konflik. Kita memberikan ruang yang sama kepada seluruh kader-kader NU,” ujarnya.
Ia meminta tidak ada lagi praktik jeggal-menjegal melalui persyaratan pencalonan. Menurutnya, AD/ART dan Qanun Asasi NU sudah cukup menjadi pijakan dalam menentukan proses organisasi, bukan aturan turunan seperti Perkum yang sarat kepentingan dan dijadikan alat untuk menjegal kader-kader terbaik NU.
Sindir Politik Uang: Pilih dengan Nurani, Bukan Iming-Iming
Gus Yusuf juga berharap agar para peserta muktamar memilih Ketua Umum PBNU dengan hati nurani sesuai dengan kayakinan masing-masing. Pasalnya, kesuksesan muktamar kali ini tidak lepas dari peran penting para muktamrin.
Gus Yusuf mengingatkan agar dalam proses pemilihan itu pada pemegang hak suara tidak tunduk pada intervensi maupun iming-iming meteri yang bertolak belakang dengan ajaran NU.
“Kita berharap muktamirin memilih dengan basirah, dengan nurani hati, bukan dengan bisyarah. Bisyarah itu artinya apa? Iming-iming duit, karena hari ini sudah mulai beredar,” ujarnya.
“Pilihlah dengan basirah, dengan hati yang terbuka yang jernih untuk keselamatan Nahdlatul Ulama, bukan karena bisyarah,” tegasnya.
Gus Yusuf berjanji, jika dirinya terpilih sebagai Ketum PBNU periode selanjutnya maka agenda pertama yang akan dilakukan adalah menyolidkan kembali organisasi dan mengakhiri konflik internal.
Menurutnya, NU memasuki abad kedua sehingga membutuhkan konsolidasi besar-besaran agar seluruh kekuatan organisasi kembali berada dalam satu barisan.
“Ini kan NU di abad yang kedua. Yang pertama tugas kami adalah menyolidkan kembali NU, menyelesaikan konflik, semua kita rangkul. Itu tugas yang pertama,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan semangat khidmah di seluruh tingkatan kepengurusan NU.
“Yang kedua adalah mengembalikan niat khidmah agar pengurus-pengurus NU di semua tingkatan itu berkhidmah,” pungkasnya.
Editor : Redaksi