Muktamar NU Dongkrak Pendapatan Ojek Lokal hingga Rp400 Ribu

Reporter : Abd Aziz
Tukang ojek kebagian berkah Muktamar ke-35

JOMBANG I harianduta.id — Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi. Perhelatan akbar tersebut juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar, salah satunya para pengemudi ojek lokal.

Lonjakan mobilitas peserta dan pengunjung muktamar membuat permintaan jasa transportasi meningkat tajam. Kondisi ini turut mendongkrak pendapatan harian para pengemudi ojek hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.

Jika pada hari normal mereka rata-rata memperoleh penghasilan sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari, selama momentum Muktamar ke-35 NU pendapatan tersebut meningkat menjadi sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari.

Para pengemudi ojek lokal tampak siaga di sejumlah titik di sekitar kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Mereka melayani peserta muktamar yang membutuhkan transportasi, baik untuk menuju lokasi sidang maupun penginapan dan sejumlah destinasi lain.

Rute yang dilayani juga cukup beragam. Selain mengantarkan peserta menuju lokasi kegiatan, para pengemudi juga melayani perjalanan menuju sejumlah kawasan wisata religi di Jombang, termasuk kawasan Tebuireng.

Dalam sehari, seorang pengemudi ojek dapat mengangkut sekitar 10 hingga 15 penumpang. Tarif perjalanan disesuaikan dengan jarak tempuh, mulai dari Rp10 ribu, Rp15 ribu hingga Rp50 ribu. Untuk perjalanan tertentu, jarak antar-jemput dapat mencapai sekitar 15 kilometer.

Besaran tarif umumnya disepakati antara pengemudi dan penumpang. Namun, tidak jarang penumpang memberikan tambahan uang secara sukarela sebagai bentuk apresiasi atas layanan yang diberikan.

Salah seorang pengemudi ojek lokal, Rofiq, mengaku bersyukur dengan hadirnya Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, tingginya aktivitas selama muktamar memberikan kesempatan bagi para pengemudi ojek untuk memperoleh tambahan penghasilan sekaligus membantu kelancaran mobilitas peserta.

"Muktamar ini membantu teman-teman ojek untuk mempercepat arus angkut peserta. Lumayan menambah rezeki dan membantu ekonomi," ujar Rofiq.

Meski membawa keuntungan ekonomi, meningkatnya permintaan jasa transportasi juga menghadirkan tantangan. Rofiq mengatakan, sebagian penumpang belum mengetahui secara detail alamat atau lokasi tujuan. Kondisi tersebut membuat pengemudi terkadang harus meluangkan waktu lebih untuk mencari lokasi yang dimaksud.

Di tengah tingginya permintaan, para pengemudi juga berupaya menjaga ketertiban dan menghindari persaingan tidak sehat. Kelompok ojek lokal yang beranggotakan sekitar 50 orang menerapkan sistem antrean dalam melayani penumpang.

Sistem tersebut diberlakukan agar seluruh anggota memperoleh kesempatan yang sama dalam mendapatkan penumpang sekaligus mencegah terjadinya perebutan pelanggan.

"Kami buat sistem antrean biar tidak rebutan. Anggota di sini ada sekitar 50 orang yang siap melayani penumpang," tambah Rofiq.

Bagi para pengemudi ojek lokal, Muktamar ke-35 NU menjadi lebih dari sekadar perhelatan besar organisasi keagamaan. Arus kedatangan ribuan peserta dan pengunjung telah menciptakan perputaran ekonomi baru di sekitar lokasi kegiatan.

Dari sudut yang sederhana, roda dua para pengemudi ojek ikut menjadi bagian dari denyut Muktamar. Mereka mengantarkan peserta dari satu titik ke titik lain, sekaligus membawa pulang cerita tentang rezeki yang tumbuh dari sebuah perhelatan besar.

Muktamar ke-35 NU pun memperlihatkan bahwa dampak sebuah agenda berskala besar tidak berhenti di ruang-ruang persidangan. Di luar arena, masyarakat sekitar turut merasakan manfaat ekonomi, terutama para pekerja sektor informal yang menggantungkan penghasilan dari ramainya aktivitas di kawasan Tambakberas.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru