Sungkem ke Kiai Nurul Huda, Prabowo Gaungkan “Jas Ijo” di Muktamar NU

Reporter : Abd Aziz
Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan penghormatan mendalam kepada ulama sepuh, KH Nurul Huda Djazuli

JOMBANG I harianduta.id — Momen hangat dan penuh khidmat mewarnai Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Salah satu momen yang menyita perhatian terjadi ketika Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan penghormatan mendalam kepada ulama sepuh, KH Nurul Huda Djazuli.

Tiba di lokasi acara sekitar pukul 15.27 WIB dengan mengenakan baju koko putih dan peci hitam, Presiden Prabowo menyalami sejumlah tamu kehormatan yang berada di barisan depan.

Saat melintas di depan KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, yang saat itu duduk di kursi roda, Prabowo tidak sekadar memberikan salam. Presiden justru merendahkan badan dan duduk bersungkem di hadapan sang kiai.

Momen tersebut berlangsung hangat. Prabowo menggenggam erat tangan KH Nurul Huda, kemudian memeluknya dan berbincang singkat. Gestur tersebut menjadi salah satu pemandangan yang mencerminkan kedekatan dan penghormatan antara umara dan ulama.

Sikap rendah hati Presiden Prabowo itu juga selaras dengan pesan utama yang disampaikannya dalam pidato pembukaan Muktamar ke-35 NU. Di hadapan ribuan peserta Muktamar dan para tokoh nasional, Prabowo mencetuskan istilah “Jas Ijo”, yang merupakan kependekan dari “Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama”.

“Kalau Bung Karno mengatakan Jas Merah, saya ingin menyampaikan Jas Ijo: Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para ulama dan kiai. Mereka tidak hanya hadir melalui perjuangan besar di tingkat nasional, tetapi juga melalui peran sehari-hari dalam menjaga moral, kerukunan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Peran tersebut, kata Prabowo, dijalankan para ulama dan kiai mulai dari pesantren-pesantren besar hingga kiai kampung yang berada di pelosok negeri. Keringat, doa, dan pengabdian mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dalam konteks itu, sungkem Prabowo kepada KH Nurul Huda Djazuli seolah menjadi gambaran nyata dari pesan “Jas Ijo” yang disampaikannya. Penghormatan kepada ulama tidak hanya disampaikan melalui pidato, tetapi juga ditunjukkan melalui gestur langsung di hadapan publik.

Pembukaan Muktamar ke-35 NU sendiri dilakukan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Ia didampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, serta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam pembukaan tersebut. Di antaranya Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, serta Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan.

Sejumlah menteri dan pejabat negara juga tampak hadir, antara lain Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menko PMK Muhaimin Iskandar, Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Mendagri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPPA Arifah Fauzi, Menteri Haji dan Umrah KH Mochammad Irfan Yusuf, serta Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurrahman.

Hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, Menkomdigi Meutya Hafid, Mensesneg Prasetyo Hady, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, serta Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid.

Di tengah kehadiran para pejabat tinggi negara dan tokoh nasional tersebut, momen sungkem Prabowo kepada KH Nurul Huda Djazuli menjadi salah satu fragmen paling hangat dalam pembukaan Muktamar. Ia memperlihatkan bahwa penghormatan kepada ulama tetap menjadi bagian penting dalam relasi antara kepemimpinan negara dan kehidupan keumatan.

Pesan “Jas Ijo” yang digaungkan Prabowo pun menemukan bentuknya dalam sebuah gestur sederhana: seorang kepala negara merendahkan diri di hadapan seorang ulama sepuh, menggenggam tangannya, memeluk, dan menyampaikan penghormatan secara langsung.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru