JOMBANG I harianduta.id – Dinamika bursa kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kembali menghangat.
Poros Pondok Pesantren Lirboyo menggalang dukungan untuk memaketkan KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Mbah Kafa) sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Sinyal dukungan itu disampaikan Pengasuh Senior Pondok Pesantren Lirboyo, KH Athoillah Sholahuddin Anwar, melalui sejumlah pesan terbuka di media sosial pribadinya, Jumat (28/8/2026).
Kiai Athoillah secara terbuka menyebut duet Mbah Kafa dan Gus Yahya sebagai pasangan yang ideal untuk memimpin PBNU.
“Monggo konco n bolo. Pasangan ideal n serasi Rois Am Mbah Kafa, Ketum Gus Yahya,” tulis Kiai Athoillah dalam unggahannya.
Dukungan tersebut tidak berhenti pada pernyataan terbuka. Kiai Athoillah menyebut keluarga besar Lirboyo bersama jaringan kiai sepuh siap memperjuangkan pasangan tersebut dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
“Diperjuangkan sekuat tenaga, semaksimal mungkin. Nyuwun tulung dipun bantu supados sukses n berhasil,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi mengenai peta dukungan dan peluang paket tersebut dalam pemilihan pimpinan PBNU, Kiai Athoillah menyebut komunikasi dan dinamika antarkelompok kiai masih terus berjalan.
“Dinamikanya masih berlangsung,” ujarnya singkat, Jumat (28/8/2026).
Wacana duet Mbah Kafa-Gus Yahya menambah warna dalam bursa pemilihan pimpinan tertinggi PBNU. Kiai Kafabihi sebelumnya juga telah memperoleh dukungan dari Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Anwar Manshur.
Di bursa Rais Aam, nama Kiai Kafabihi bersaing dengan sejumlah ulama lainnya. Di antaranya Rais Aam petahana KH Miftachul Akhyar, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, serta mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Salah satu tahapan penting dalam proses tersebut adalah penentuan sembilan anggota Ahlul Halli wal-Aqdi (AHWA). Forum tersebut memiliki peran penting dalam menentukan figur Rais Aam PBNU.
Sementara itu, persaingan untuk posisi Ketua Umum PBNU juga berlangsung ketat. Gus Yahya yang kembali mencalonkan diri untuk periode kedua menghadapi sejumlah kandidat dari kalangan pengasuh pesantren maupun pengurus wilayah.
Sejumlah nama yang mengemuka antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).
Di tengah dinamika tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar telah menyatakan tidak mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU. Ia memilih tetap fokus menjalankan tugasnya sebagai Menteri Agama.
Peta persaingan pun masih sangat mungkin berubah. Penggalangan dukungan antarkelompok kiai diperkirakan terus bergerak menjelang sidang pleno yang akan menentukan pimpinan PBNU masa khidmat 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Editor : Redaksi