JOMBANG I harianduta.id — KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 pada Senin (31/8/2026). Di balik amanah baru tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang santri yang tumbuh dari lingkungan keluarga ulama, sempat menekuni dunia pelayaran, berkarier di perusahaan BUMN, hingga akhirnya kembali mengabdikan diri di pesantren.
Gus Kikin kini melanjutkan estafet kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama sekaligus meneruskan amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang sebelumnya diemban almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Lahir di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, Gus Kikin merupakan putra kedelapan dari 11 bersaudara, pasangan almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.
Darah ulama besar mengalir kuat dalam dirinya. Dari jalur ibu, nasab Gus Kikin tersambung kepada Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari melalui sang nenek, Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. Nyai Khoiriyah menikah dengan KH Ma'shum Ali, ulama ahli falak terkemuka asal Gresik.
Sementara dari garis ayah, Gus Kikin memiliki hubungan nasab dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang. Dari garis keluarga tersebut, ia juga merupakan adik sepupu KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo.
Dari Pesantren ke Dunia Pelayaran
Meski lahir dan tumbuh dalam tradisi pesantren, perjalanan pendidikan dan karier Gus Kikin tidak sepenuhnya berlangsung di lingkungan keagamaan.
Ia mengawali pendidikan dasar di MI Parimono Jombang pada 1963–1970 sembari menempuh pendidikan pesantren di Pesantren Seblak. Pendidikan menengah dilanjutkan di SMP 1 Jombang pada 1971–1973 dan SMA Jombang pada 1974–1977.
Setelah itu, Gus Kikin memilih jalur yang terbilang tidak biasa bagi seorang santri. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta pada 1975–1979.
Dari dunia pendidikan pelayaran tersebut, Gus Kikin memperoleh keterampilan di bidang kemaritiman. Ia bahkan menjalani praktik pelayaran dan tercatat empat kali mengelilingi dunia.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya memasuki dunia profesional. Gus Kikin berkarier di Djakarta Lloyd, perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelayaran. Kariernya berkembang cukup cepat. Pada usia 30 tahun, ia telah dipercaya menjadi Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon.
Setelah lebih dari satu dekade berkarier di perusahaan pelayaran tersebut, Gus Kikin memilih mengundurkan diri pada 1992. Ia kemudian mengembangkan usaha sendiri di bidang shipping dan logistik.
Semangat belajar tetap dijaganya. Pada 2013, ia kembali menempuh pendidikan, kali ini mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka. Pendidikan tersebut menjadi bagian dari upayanya mendukung pengembangan usaha media televisi yang dirintisnya.
Kembali ke Tebuireng
Perjalanan Gus Kikin kemudian berbelok kembali ke dunia pesantren.
Pada Januari 2016, almarhum Gus Sholah memintanya menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Penunjukan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi proses suksesi kepemimpinan di pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari tersebut.
Setelah Gus Sholah wafat, Gus Kikin kemudian disepakati melalui musyawarah keluarga besar Bani Hasyim untuk meneruskan amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Dalam menjalankan amanah tersebut, Gus Kikin menempatkan warisan intelektual Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari sebagai salah satu pijakan penting. Ia berkomitmen merawat sekaligus menggali kembali pemikiran pendiri NU tersebut agar tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Salah satu perhatian utamanya adalah pemahaman terhadap karya-karya Hadratussyaikh, termasuk Qanun Asasi, yang menjadi salah satu fondasi pemikiran dan prinsip dasar Nahdlatul Ulama.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya ke amanah yang lebih luas. Dari lingkungan pesantren, dunia pelayaran, perusahaan BUMN, kewirausahaan, hingga kembali ke Tebuireng, Gus Kikin akhirnya dipercaya memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Penetapan sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 menjadi babak baru dalam perjalanan Gus Kikin. Amanah tersebut sekaligus menempatkannya pada tanggung jawab untuk membawa tradisi, pemikiran, dan nilai-nilai yang diwariskan para ulama ke dalam dinamika Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan.
Editor : Redaksi