Gus Yahya Tegaskan Kembali Maju, Sebut Niatnya Tak Keliru

Reporter : Abd Aziz
Gus Yahya

JOMBANG I harianduta.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan kesiapannya kembali maju dalam bursa kepemimpinan PBNU pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Muktamar, Kamis (27/8/2026), pria yang karib disapa Gus Yahya itu menyatakan keyakinannya untuk kembali mencalonkan diri. Bagi dia, keputusan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada jam’iyah NU.

Saat ditanya mengenai alasannya kembali maju dalam kontestasi kepemimpinan NU, Gus Yahya memberikan jawaban singkat namun tegas.

"Allahu Robbuna. Niatku ora kliru" (Allah Tuhan kami, niat saya tidak salah)," ucapnya.

Di tengah dinamika menjelang pemilihan, Gus Yahya juga membantah rumor yang menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak menghendaki dirinya kembali memimpin PBNU.

Menurutnya, situasi politik saat ini berbeda dengan era Presiden Soeharto ketika terjadi ketegangan politik dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karena itu, ia menilai tidak ada alasan bagi Presiden Prabowo untuk melakukan intervensi terhadap proses internal NU.

Gus Yahya bahkan menyebut intervensi terhadap PBNU justru berisiko secara politik. Terlebih, hubungan dirinya dengan Presiden Prabowo selama ini disebut berjalan secara kooperatif dan saling mendukung, bukan dalam pola hubungan yang konfrontatif.

Isu lain yang turut mencuat adalah dugaan adanya oknum pejabat pemerintahan yang mengumpulkan pengurus daerah dan memberikan imbalan agar tidak memilih dirinya dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.

Gus Yahya menilai jika praktik tersebut benar terjadi, tindakan itu tidak dapat dianggap sebagai cerminan sikap resmi Presiden.

"Jika ada oknum pejabat yang mencatut nama Presiden demi agenda pribadi, Presiden semestinya memberikan teguran dan sanksi tegas secara terbuka," ujar Gus Yahya.

Mengenai isu politik uang yang berembus menjelang pemungutan suara, Gus Yahya mengaku tidak merasa risau. Ia justru menyatakan keyakinannya terhadap loyalitas para utusan PWNU dan PCNU yang akan menentukan arah kepemimpinan organisasi.

Menurutnya, para muktamirin memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah organisasi dan tidak menggadaikan pilihan politiknya demi materi.

Optimisme itu kembali ditegaskannya ketika ditanya mengenai keteguhan para muktamirin dalam menentukan pilihan kepemimpinan NU.

"Ya. Haqqul yaqin," tegasnya.

Sementara itu, terkait perselisihan internal antara jajaran Tanfidziyah dan Syuriyah, termasuk dengan Rais Aam, yang sempat mencuat sebelum Muktamar, Gus Yahya memastikan proses rekonsiliasi telah selesai.

Menurut dia, kesepakatan seluruh pihak untuk menggelar Muktamar Ke-35 NU menjadi bukti bahwa persoalan internal telah menemukan jalan penyelesaian. Kondisi organisasi pun dinilai telah kembali kondusif untuk menjalankan forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut.

Gus Yahya mengimbau seluruh peserta Muktamar Ke-35 NU untuk menjaga suasana forum tetap tertib. Ia meminta seluruh muktamirin meluruskan niat, menjaga kedisiplinan, serta bersama-sama merawat martabat Nahdlatul Ulama selama proses permusyawaratan berlangsung.

Bagi Gus Yahya, Muktamar bukan sekadar arena kontestasi untuk menentukan siapa yang akan memimpin NU, tetapi juga momentum untuk memastikan perjalanan jam’iyah tetap berada dalam koridor pengabdian dan kepentingan organisasi.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru