Maju Calon Ketua PBNU, Gus Kikin Usung Penguatan Qanun Asasi

Reporter : Abd Aziz
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)

JOMBANG I harianduta.id- KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin membawa sejumlah gagasan dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu salah satunya menawarkan penguatan kemandirian ekonomi warga Nahdlatul Ulama. Menurutnya, jumlah warga nahdliyin yang besar merupakan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara terorganisasi.

Gus Kikin menegaskan, dirinya tidak secara pribadi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU. Ia menyebut pencalonannya merupakan dorongan dari PWNU Jawa Timur.

"Jadi ini kita memang persiapkan dirinya itu bukan untuk pemilihan seperti ini tetapi kita memang sehari-hari menjalankan kegiatan-kegiatan di NU itu memang sebaik-baiknya. Ini ya karena saya sudah terbiasa kita bersilaturahmi dengan yang lain dan kita menjalin hubungan-hubungan dengan semuanya dan mereka pada saat dengar saya mencalonkan diri, saya sebetulnya bukan mencalonkan diri saya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur dan mereka itu menyambut dengan baik," katanya, Sabtu (29/82026).

Selain penguatan ekonomi, Gus Kikin juga menawarkan penguatan kembali landasan pemikiran NU sebagaimana dirumuskan para pendiri organisasi tersebut pada masa awal berdirinya.

Ia mengungkapkan, dokumen Qanun Asasi yang disusun KH Hasyim Asy'ari sebagai salah satu pijakan awal NU telah ditemukan kembali. Dokumen tersebut, kata dia, sekitar tiga tahun lalu telah diterbitkan dalam bentuk buku sehingga dapat kembali dipelajari dan dijadikan rujukan dalam kehidupan organisasi.

"Itu dulu digunakan NU di awal kelahiran NU sampai kemudian NU menjadi partai politik tahun 1952 dan itu kemudian tidak digunakan. Tiga tahun yang lalu itu kita temukan kembali dukungan itu dan sekarang sudah kita cetak, sudah jadi buku, nah itu yang saya tawarkan NU itu seyogyanya menggunakan rujukan-rujukan itu lagi nanti kita menggunakan itu supaya NU itu kembali seperti dulu awal digunakan," ungkapnya.

Bagi Gus Kikin, Qanun Asasi tidak sekadar menjadi dokumen sejarah. Dokumen tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam menentukan arah organisasi NU ke depan.

Dengan kembali merujuk pada pemikiran para pendiri NU, ia berharap gerakan organisasi tetap memiliki fondasi yang kuat sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Warga NU sebagai Kekuatan Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, Gus Kikin melihat jumlah warga NU yang besar sebagai kekuatan pasar yang sangat potensial. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola secara terarah agar dapat memberikan manfaat nyata bagi warga nahdliyin.

"Ekonomi itu tidak lepas, semua ekonomi berbasis pasar. Nah, pasarnya NU itu dengan jumlah warganya yang begitu besar. Itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi," tuturnya.

Ia menilai penguatan ekonomi warga NU tidak cukup hanya dilakukan melalui sektor-sektor konvensional. Perubahan pola transaksi dan perkembangan teknologi digital juga membuka peluang yang besar untuk membangun ekosistem ekonomi warga NU.

"Ekonomi digital ikut, tinggal caranya saja. Yang terang, warganya yang jumlahnya banyak ini kalau ditata ekonominya kan menjadi menarik," terangnya.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari visi Gus Kikin dalam melihat NU tidak hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan masyarakat yang memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi.

Kriteria Rais Aam

Sementara terkait sosok yang dinilai layak menduduki posisi Rais Aam PBNU, Gus Kikin memilih tidak menyebut nama tertentu.

Ia hanya memberikan gambaran mengenai karakter Rais Aam yang ideal dengan merujuk pada tradisi kepemimpinan ulama NU pada masa sebelumnya.

Menurutnya, Rais Aam pada masa lalu dikenal memiliki kapasitas keilmuan agama yang kuat sekaligus mampu menerjemahkan ilmu tersebut dalam perilaku dan amalan sehari-hari.

"Rais Aam kalau yang jaman dulu memang dari sisi keilmuannya, keilmuannya yang mumpuni kemudian memang yang terbaik itu namanya ulama itu adalah yang menjaga keilmuannya jadi amalan-amalannya atau semua kegiatannya itu berbasis dari keilmuannya itu," pungkasnya.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru