Nahdlatut Turots Hidupkan Semangat Tahqiq Kitab Muassis NU

Reporter : Abd Aziz

JOMBANG I harianduta.id — Nahdlatut Turots turut meramaikan rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dengan menggelar Dauroh Tahqiq Kitab Muassis NU di Ribath Hidayatul Qur’an, Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu ikhtiar Nahdlatut Turots untuk menghidupkan kembali semangat santri dalam mengkaji sekaligus mentahqiq kitab-kitab peninggalan para muassis NU. Tahqiq merupakan proses penelitian dan penyuntingan teks kitab untuk memastikan keakuratan naskah, baik dari sisi isi maupun sumber rujukannya.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik tahqiq, tetapi juga diajak untuk lebih dekat dengan khazanah keilmuan yang diwariskan para ulama pendiri NU. Upaya tersebut dinilai penting agar karya-karya ulama terdahulu tetap terpelihara dan dapat dipelajari oleh generasi santri masa kini.

Dauroh tersebut dibuka oleh sejumlah tokoh NU. Di antaranya Ketua Nahdlatut Turots Gus Nanal Ainul Fauz, Wakil Rais Aam PBNU Dr. (HC) KH. Afifuddin Muhadjir, Katib Syuriyah PBNU Dr. KH. Afiduddin Dimyathi, Lc., M.A. yang sekaligus menjadi tuan rumah kegiatan, serta KH. Zaim Ahmad Maksum.

Sebanyak 40 peserta yang telah melalui proses seleksi mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan secara langsung dari Ustadz M. Khalilurrahman, seorang praktisi tahqiq asal Sumenep, Madura.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan adanya minat yang cukup kuat di kalangan generasi muda terhadap kajian manuskrip dan karya-karya ulama terdahulu. Mereka diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dalam dauroh untuk dikembangkan di lembaga masing-masing.

Salah satu peserta, Muhammad Hadya, yang mewakili lembaga Beit Turath al-Islami Kalimantan, mengaku puas dengan pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, dauroh tahqiq memberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh pemikiran dan peninggalan keilmuan para ulama terdahulu.

“Alhamdulillah merasa sangat bangga dan senang dengan adanya acara ini karena bisa mempelajari lebih jauh mengenai ulama dahulu, dan diisi dengan pemateri yang merupakan ahlinya dan diadakan dengan serius, dan panitia juga melaksanakan dengan sangat bagus. Harapannya, semoga acara semacam ini tidak haya diadakan muktamar saja tapi sering diadakan di tempat lain karena tempat lain juga bayak yang mempunyai peninggalan ilama, krna dengan ada daurah ini bisa menumbuhkan semangat mengangkat kembali” ucap pria kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan tersebut.

Menurut Hadya, kegiatan semacam ini perlu diperluas dan tidak hanya digelar bersamaan dengan momentum besar seperti Muktamar NU. Pasalnya, berbagai daerah memiliki khazanah kitab dan peninggalan ulama yang perlu diteliti, dirawat, dan dihidupkan kembali.

Dauroh Tahqiq Kitab Muassis NU pun menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren. Di tengah perkembangan zaman, tahqiq menjadi salah satu cara untuk memastikan karya-karya ulama tetap dapat diwariskan secara ilmiah kepada generasi berikutnya.

Melalui kegiatan tersebut, Nahdlatut Turots menegaskan pentingnya merawat warisan intelektual para muassis NU, sekaligus mendorong santri untuk tidak berhenti pada aktivitas membaca kitab, tetapi juga memiliki kemampuan meneliti, memverifikasi, dan menghadirkan kembali karya ulama dalam bentuk yang dapat dipelajari secara luas.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru