KEDIRI|harianduta.id - Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin menghadiri Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII: Multaqā Ru’asā’ Al-Ma‘āhid yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Pondok Pesantren Al Amien Ngasinan Kediri. Forum strategis ini mengangkat tema Memperkokoh Pesantren sebagai Benteng Perlindungan Anak dan Penjaga Akhlak Mulia.
Wakil Wali Kota Kediri memandang forum ini sangat penting karena menghadirkan berbagai perspektif yang saling melengkapi. Mulai dari implementasi regulasi terkait pesantren ramah anak, penguatan budaya pengasuhan yang santun, perlindungan terhadap santri dari kekerasan seksual, penguatan ketahanan keluarga, hingga kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks.
“Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak di lingkungan pesantren bukan semata persoalan aturan, melainkan bagian dari ikhtiar besar menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan manusia,” ujar Gus Qowim, sapaan akrab Walikota Kediri.
Lebih lanjut, Gus Qowim berharap forum ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata, melainkan mampu melahirkan komitmen bersama, langkah-langkah nyata, serta praktik-praktik baik yang dapat diterapkan di masing-masing pesantren.
“Kita ingin pesantren tetap menjadi tempat yang membuat orang tua merasa tenang menitipkan putra-putrinya. Menjadi ruang yang aman untuk belajar, nyaman untuk bertumbuh, dan kondusif untuk membangun karakter,” ungkapnya.
Menurutnya, Pemerintah Kota Kediri memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan ruang belajar yang ramah anak di seluruh satuan pendidikan. Sebab, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan prestasi akademik, tetapi juga oleh rasa aman, rasa dihargai, serta perlindungan yang diterima peserta didik selama menjalani proses pendidikan.
“Ketika anak-anak merasa aman, mereka akan lebih mudah berkembang. Ketika mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual, maka kualitas sumber daya manusia yang kita cita-citakan akan lebih mudah terwujud,” jelasnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Kediri memandang pesantren sebagai mitra strategis dalam membangun generasi masa depan yang berakhlakul karimah, cerdas, tangguh, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Wakil Wali Kota Kediri berharap dialog ini dapat menghasilkan rekomendasi dan gagasan yang membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan Islam, khususnya dalam penguatan sistem perlindungan anak di lingkungan pesantren.
Sekedar diketahui, dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum MUI Pusat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien KH Anwar Iskandar, Wakil Ketua Umum MUI pusat KH Marsudi Syuhud, Ketua Bidang Pesantren MUI Pusat Ahmad Fahrur Rozi Burhan, Wakil Sekjen Bidang Pesantren KH Chaerul Shaleh Rasyid, Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat Basnang Said, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Amien Suyitno, Sekjen MUI Pusat Amirsyah Tambunan, Pengasuh PP Salafy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Aina Ainaul Mardliyah Anwar, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Badriyah Fayumi, Ketua Umum MUI Jawa Timur KH Abd. Halim Soebahar, para pemandu diskusi M. Noor Harisudin, segenap pimpinan pondok pesantren yang tergabung dalam Forum Multaqā Ru’asā’ Al-Ma‘āhid, serta seluruh tamu undangan. (bud)
Editor : Imam Ghozali