BATU | harianduta.id - Tim KKN Tematik 54 Kelompok 54 (SIGAP UMKM: Sinergi Informasi, Gerakan Analitis, dan Akses Perizinan UMKM), di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd dan di pimpin oleh PIC Program Kerja PROFIL EMAS, Vita Davina Oktaviani, membuat video profil dan naskah profil untuk beberapa UMKM di Kota Batu.
Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung perkembangan UMKM yang juga menjadi perhatian Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batu, dengan kolaborasi bersama Pusat Layanan Usaha Terpadu & UMKM (PLUT Kota Batu) yang bertujuan membantu pelaku usaha mikro tampil lebih baik secara digital, agar produknya dikenal lebih luas.
KKN Tematik 54 SIGAP UMKM berharap kolaborasi antara mahasiswa, pelaku UMKM, dan masyarakat ini bisa memberi dampak yang berkelanjutan — bukan cuma jadi proyek sesaat, tapi benar-benar membantu usaha lokal naik kelas, sekaligus jadi bagian kecil dari upaya mendorong SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Salah satu UMKM yang didampingi adalah Batu Flora Wijaya yang berada di Bumiaji, kec. Bumiaji, Kota Batu, produsen sabun herbal dengan merek Yukafi Mazida atau biasa disebut Yuka. Usaha ini milik Ibu Umi Masitoh, berlokasi di Kota Batu.
Yuka mulai dirintis tahun 2013. Awalnya dari kepedulian Bu Umi soal kesehatan kulit keluarga sendiri, lalu berkembang jadi usaha dengan filosofi "Natural Care, Mindful Living". Di masa jayanya, 2013 sampai 2018, produksi sabun ini bisa tembus 30.000 batang per bulan lewat jaringan agen dan distributor yang luas.
Produknya sendiri diformulasikan tanpa SLS dan paraben, pakai ekstrak kunyit, lidah buaya, dan temu mangga, ditambah minyak kelapa yang kaya asam laurat — jadi cukup aman dipakai orang dengan kulit sensitif atau eksim.
Tapi masa sulit datang saat pandemi. Penjualan Yuka anjlok drastis karena telat beradaptasi ke sistem penjualan digital. Selama ini promosinya memang masih mengandalkan cara lama: dari mulut ke mulut dan jaringan agen. Media sosial dan marketplace belum digarap serius. Dari situ tim KKN Tematik 54 melihat Yuka sebagai UMKM yang tepat untuk didampingi.
Selain bikin video, mahasiswa juga menyusun naskah profil usaha yang mencakup sejarah, keunggulan produk, proses produksi, sampai tantangan yang dihadapi. Harapannya materi ini bisa langsung dipakai UMKM sebagai bahan promosi di berbagai platform.
Koordinator KKN Tematik 54 Aidil Arsy Alkahfi Irawan menyebut program ini sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa untuk mendukung digitalisasi UMKM.
"Kami melihat banyak UMKM di Kota Batu punya produk bagus, tapi belum dikenal luas karena promosi digitalnya masih kurang. Lewat video dan naskah profil ini, kami berharap mereka punya materi promosi yang lebih profesional," ujarnya.
Akhir 2023, Bu Umi memutuskan bangkit lagi. Manajemen dirapikan, sistem internal dibenahi, legalitas diurus, dan ia mulai serius belajar pemasaran digital — termasuk memanfaatkan Instagram dan TikTok sebagai media edukasi sekaligus katalog produk. Yuka juga sedang menyiapkan lini baru bernama Bhumi Batu – Natural Heritage Soap, dengan konsep eco-conscious souvenir. Ada empat varian: lempung wangi lavender, pandan lereng, kembang apel, dan rempah alas — digadang jadi oleh-oleh khas Kota Batu.
"Ayo kita hidup berkesadaran. Jika kita ingin tubuh kita sehat, berikanlah sesuatu yang alami dan jujur, bukan produk buatan bersintetik. Menjaga kesehatan diri dan merawat bumi adalah kewajiban kita bersama," kata Bu Umi.
Aidil menambahkan program ini diharapkan jadi pemantik bagi UMKM lain untuk lebih aktif di media sosial dan marketplace. Semakin banyak eksposur digital, semakin besar juga peluang produk lokal Kota Batu dikenal sampai ke luar daerah.
“Yuk dukung UMKM Kota Batu — beli produknya, share konten promosinya, dan bantu dorong transformasi digital biar makin banyak UMKM bisa berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.” Imm
Editor : Imam Ghozali