Ketua Umum PBNU Gus kikin pasang badan untuk Lukman Edy (LE) sebagai kandidat sekretaris jenderal PBNU. Meski garansi Gus kikin ini menemui jalan terjal.
Sejumlah faksi dan mitra koalisi Gus kikin pada muktamar Tambakberas, menolak sangat keras LE. Tidak itu saja, LE kemungkinan besar juga sangat resisten di PKB.
Empat Langkah Strategis Gus Kikin
Gus Kikin dihadapkan pada situasi sulit. Meski latar belakangnya sebagai pelaut, biasa menghadapi badai dan gelombang. Tetapi di altar PBNU, jam'iyah yang didirikan dan dibangun oleh leluhurnya; Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari, privilage sebagai pewaris, tidak serta merta menghentikan Saifullah Yusuf (Ipul) cs untuk berhenti bermanuver.
Catatan kiprah dan langkah Saifullah Yusuf terhadap Bany Hasyim, terlacak mulai muktamar PKB Semarang 16 April 2005 dan muktamar NU 2015 di Jombang, dia terus "buka front" dengan Bany Hasyim.
Pada muktamar PKB 2005, ketika Saifullah Yusuf sebagai ketua umum PP GP Ansor, dalam rapat internal di Ansor, dia merencanakan untuk melempari Gus Dur dengan telor. Sementara pada muktamar NU 2015 di Jombang, peran Saifullah Yusuf dalam menggergaji Sholahudin Wahid, disaksikan banyak orang.
Tampaknya, momentum pembubaran panitia muktamar ke 35 di Tambakberas, kamis 10 September kemarin, adalah agenda merapatkan dan menguatkan barisan, dengan indikasi tujuan meng-Gus Solah-kan Gus Kikin.
Demi menghadapi situasi agak keruh ini, ada sejumlah hal yang layak dipertimbangkan Gus Kikin untuk dilakukan.
Pertama, tidak menunjuk salah satu dari tiga tokoh ini: Ipul, Nusron dan LE, sebagai sekjen PBNU.
Langkah ini ideal. Langkah ini efektif untuk tidak menjadi sumbu saling cemburu mereka bertiga. Gus Kikin juga telah "menunaikan janji" ke LE. Publik menyaksikan bahwa peluang LE sangat terjal.
Menariknya, jalan terjal ini justru bersumber dari mitra koalisi dan tim inti pemenangan Gus Kikin. Padahal awalnya, publik menebak bahwa langkah LE menuju sekjen akan terganjal oleh Raden Saleh. Meski hingga detik ini, Raden Saleh tidak (belum) melakukan apapun terkait wajah kabinet Gus Kikin.
Kedua, Gus Kikin bisa juga mempersilahkan salah satu dari tiga tokoh tersebut, untuk menduduki posisi sekjen. Langkah ini meski kondusif, tetapi tetap saja memicu ketidakpuasan mereka di antara tiga yang tidak terpilih.
Tetapi, pilihan terhadap LE secara internal, bukan representasi kekuatan mainstream di PBNU. Kekuatan utama tetap dalam kendali Ipul.
Ketiga, ada baiknya Gus Kikin menunjuk juru bicara (jubir). Posisi jubir menjadi strategis dan sentral, manakala sekjen tidak berasal dari saku Gus Kikin.
Strategis sebagai kanalisasi informasi dan kebijakan tunggal PBNU. Jubir juga sentral sebagai "meredam" manuver Ipul cs.
Politisasi PBNU oleh Ipul sangat mungkin terjadi dan bersumber dari posisi Sekjen. Hal ini hanya mungkin diredam oleh jubir.
Keempat, Gus Kikin bisa juga menunjuk sekjen dari figur yang tidak terkontaminasi oleh balas jasa tim pemenangan atau sekjen dari kelompok penekan (pressure group); Ipul cs.
Untuk ini, ada sejumlah kelompok kepentingan (interest group) yang juga menghendaki sekjen Gus Kikin berasal dari "profesional" yang netral. Langkah ini relatif lebih safety, comfort dan tetap menjunjung dignity Ipul, Nusron dan LE. Langkah ini juga tampak satu tarikan nafas dengan isu serta rumor sebelum muktamar; bahwa Gus Kikin adalah paket istana. Bukankah sejumlah aktivis NU memiliki relasi, komunikasi dan jejaring dengan istana?
Penutup
Pasukan Ipul masih utuh dan kokoh hingga pembubaran panitia muktamar. Sementara Gus Kikin tengah menata dan mengkonsolidasi para punggawanya. Jika Gus Kikin hanya mengandalkan LE, pasti mudah dilibas oleh genk Ipul.
Ada baiknya Gus Kikin memobilisasi dukungan dari Raden Saleh dan Ikapete untuk melapis LE. Tetapi apa mungkin Raden Saleh bekerjasama dengan LE?
Dr M Sholeh Basyari (Direktur Eksekutif CSIIS dan aktivis NU DKI Jakarta)
Editor : Redaksi