JOMBANG I harianduta.id – Larut malam tak menyurutkan semangat Nyai Hj Chisbiyah Wahab mengikuti secara langsung jalannya Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah proses pemilihan Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA), Rais Aam, dan Ketua Umum PBNU yang berlangsung sejak Ahad (30/8/2026) pukul 21.00 WIB hingga Senin (31/8/2026) pukul 04.30 WIB, Nyai Chisbiyah tetap setia memantau persidangan dari barisan depan.
Nyai Chisbiyah merupakan salah satu putri KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Di usianya yang telah menginjak 82 tahun, ia masih menunjukkan perhatian besar terhadap dinamika organisasi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
“Kita ini memang sudah cinta ke NU. NU ini banyak kader-kader yang bagus dan berpotensi memimpin NU ke depan, selain itu muktamirin juga kader muda yang memiliki semangat membawa NU ke depan itu yang menjadi semangat saya masih setia memantau jalannya sidang pleno ini,” ujarnya di sela-sela pelaksanaan Sidang Pleno V di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang.
Nyai Chisbiyah mengaku telah berada di lokasi sejak Ahad pukul 21.00 WIB. Meski persidangan berlangsung hingga dini hari dan rasa kantuk mulai datang, ia memilih tetap bertahan untuk menyaksikan proses Muktamar secara langsung.
“Saya di sini sejak Ahad jam 21.00 WIB dan masih bertahan hingga sekarang. Selama jalannya sidang pleno ya ada ngantuk-ngantuk sedikit, wajar ya, saya sudah banyak umur. Kalau nunggu di rumah, pikiran saya ada di sidang ini, jadi yaudah lebih baik saya ngantuk-ngantuk di sini tapi sambil menyimak jalannya sidang,” katanya.
Bagi Nyai Chisbiyah, mengikuti langsung persidangan menjadi bagian penting dalam menyaksikan perjalanan NU setiap lima tahun sekali. Ia menilai dinamika yang muncul selama persidangan justru menunjukkan antusiasme dan semangat para peserta Muktamar dalam menentukan arah organisasi.
Perbedaan pendapat yang disampaikan para pemilik suara, menurutnya, merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat di lingkungan NU. Setiap ketua PCNU dan PWNU memiliki hak untuk menyampaikan pandangan dan menggunakan hak suaranya dalam forum Muktamar.
“Walaupun ada gangguan sedikit-sedikit karena tadi ngantuk, tapi ya tidak apa-apa. Momen lima tahun sekali ini harus kita pantau secara langsung. Dinamika jalannya sidang juga hidup, justru begini yang bagus, setiap ketua PCNU, PWNU memiliki hak suara dan pada kasih pendapat, suaranya. Ini hidup sidangnya, ini yang bagus untuk Muktamar NU,” pungkasnya.
Kehadiran Nyai Chisbiyah di tengah persidangan hingga dini hari menjadi gambaran kuat tentang keterikatan generasi keluarga pendiri NU dengan perjalanan organisasi. Di usia 82 tahun, ia memilih tetap berada di ruang Muktamar, menyimak setiap dinamika, dan menyaksikan secara langsung proses penentuan kepemimpinan NU untuk lima tahun mendatang.
Editor : Redaksi