Masa Depan Pers di Era Homeless Media

Reporter : Sopii
Eko Pamuji

Oleh: Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom *

ZAMAN dulu, kalau Anda mau bikin perusahaan koran, modalnya harus tebal. Tebal sekali. Anda harus beli mesin cetak segede gajah. Harus sewa gedung buat ruang redaksi. Harus punya armada truk untuk mengantar koran subuh-subuh. Belum lagi menggaji wartawan, redaktur, sampai loper koran.

Sekarang? Modal itu seperti menguap ke udara.

Lihatlah sekeliling kita hari ini. Ada jenis makhluk baru di jagat informasi bernama Homeless Media. Media tanpa rumah. Media tunawisma. Media gelandangan. Media gembel. Mereka tidak punya gedung megah. Tidak punya mesin cetak. Bahkan, banyak yang tidak punya website sendiri. "Rumah" mereka menumpang di pekarangan orang lain bernama Instagram, TikTok, YouTube, X, atau saluran Telegram, dan lainnya. Gratis pula.

Kalau pemilik pekarangan (sebut saja Mark Zuckerberg atau Elon Musk) mengubah pagar algoritmanya, penghuni rumah tumpangan ini bisa langsung pusing tujuh keliling. Tapi, jangan salah. Meski statusnya "tumpangan", daya pikat mereka luar biasa. Pengikutnya jutaan. Pengaruhnya? Bisa membuat pimpinan media konvensional yang punya sertifikasi Dewan Pers gigit jari.

Belum lama ini, jagat media kita dihebohkan oleh langkah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang merangkul jaringan akun-akun digital populer. Muncul perdebatan sengit. Media-media resmi merasa posisinya terancam. Ada kekhawatiran, bagaimana mungkin akun media yang tidak terikat UU Pers dan verifikasi ketat disetarakan sebagai mitra resmi negara?

Itulah realitas pers saat ini. Cair. Liar. Dan penuh kejutan.

Mengapa fenomena ini tumbuh subur bak jamur di musim hujan? Jawabannya sederhana: mereka paham apa yang dimaui oleh generasi jempol Gen Z dan milenial.

Media konvensional sering terjebak dalam keruwetan birokrasi redaksi. Ada peristiwa jam 8 pagi, rapat redaksi dulu, verifikasi berlapis, konfirmasi sana-sini, baru tayang sore hari. Di era sekarang, kecepatan seperti itu sudah dianggap kuno.

Homeless media tidak butuh itu. Mereka hidup dari engagement, insight, dan kecepatan nirkabel. Begitu ada kejadian lokal di sudut kota Surabaya atau Medan, warga langsung mengirimkan video. Si pengelola akun tinggal mengemasnya dengan visual yang ciamik, musik yang pas, teks ringkas yang punchy, lalu upload.

Dalam lima menit, konten itu viral. Ditonton jutaan orang.

Di dalam negeri, kita mengenal nama-nama besar seperti Folkative, USS Feed, atau Indozone. Mereka tidak bicara politik berat dengan bahasa akademis yang bikin kening berkerut. Mereka membungkus tren anak muda, gaya hidup, hingga isu sosial perkotaan dengan gaya bahasa tongkrongan. Ada juga media lokal berbasis komunitas di daerah-daerah yang justru menjadi rujukan utama warga lokal ketika daerahnya banjir atau ada jalan berlubang, mengalahkan koran daerah setempat.

Di luar negeri, tren ini setali tiga uang. Tengok saja bagaimana lanskap jurnalisme global diguncang oleh jurnalisme kreator (creator-driven journalism). Di Amerika Serikat dan Eropa, platform seperti Substack memfasilitasi jurnalis-jurnalis hebat untuk keluar dari media besar siber kelas The New York Times atau The Washington Post. Mereka menulis langsung untuk audiens mereka lewat buletin digital (newsletter).

Mereka tidak punya kantor. Mereka bekerja dari meja makan rumah atau kafe. Rumah mereka adalah basis massa pengikutnya sendiri. Secara global, ekonomi kreator (creator economy) di bidang informasi ini sudah bernilai ratusan miliar dolar.

Kudeta Perhatian Publik

Ini bukan lagi soal gaya-gayaan. Ini adalah pertarungan memperebutkan satu hal paling berharga di abad ini yakni perhatian publik (attention economy).

Dulu, pers adalah penjaga gawang informasi (gatekeeper). Apa yang dianggap penting oleh redaktur pemred, itulah yang dibaca rakyat besok pagi. Sekarang? Penjaga gawangnya sudah pensiun. Gawangnya dijaga oleh algoritma. Realitas publik hari ini dibentuk oleh apa yang ada di timeline. Apa yang viral, itulah yang dianggap penting.

Dampaknya terasa ke dapur perusahaan pers konvensional. Iklan pindah alamat. Korporasi dan pemerintah kini lebih suka menaruh anggaran komunikasi mereka ke akun-akun homeless media yang traffic-nya jelas, daripada ke media formal yang pembacanya makin menyusut.

Namun, di balik kegemilangan angka-angka views dan likes tersebut, ada bom waktu yang mengintai homeless media.

Homeless media kerap kali tidak akrab dengan istilah cover both sides atau disiplin verifikasi. Karena mengejar kecepatan demi menyenangkan algoritma, akurasi sering kali dikorbankan. Akibatnya, mereka rentan menjadi penyebar disinformasi, atau lebih buruk lagi, sekadar menjadi tontonan (spectacle) yang memproduksi sensasi demi menjaga ritme interaksi.

Ketika pemerintah mencoba merangkul mereka, seperti dalam kasus polemik New Media Forum oleh Bakom RI baru-baru ini, publik langsung menaruh curiga. Apakah media-media cair ini akan kehilangan independensinya? Apakah mereka akan bergeser fungsi menjadi sekadar buzzer atau corong narasi tertentu? Begitu cap buzzer menempel, runtuhlah kedekatan organik yang selama ini susah payah mereka bangun dengan pengikutnya.

Lalu, bagaimana kita melihat masa depan pers? Apakah media konvensional akan mati total dan digantikan oleh para tunawisma digital ini?

Saya kok tidak melihatnya hitam-putih begitu.

Masa depan pers justru akan melahirkan sebuah sintesis baru. Sebuah perkawinan silang yang tak terhindarkan.

Media konvensional dipaksa untuk meruntuhkan keangkuhannya. Mereka harus belajar cara bercerita (storytelling) yang fleksibel, menguasai estetika visual, dan lincah menari bersama algoritma seperti yang dilakukan homeless media. Tanpa itu, jurnalisme seberat apa pun tidak akan ada yang membaca.

Sebaliknya, homeless media juga berada di persimpangan jalan. Mereka tidak bisa selamanya hidup sebagai "gembel digital" yang bergerak liar tanpa aturan. Jika ingin bertahan dalam jangka panjang dan diakui sebagai institusi yang berpengaruh, mereka harus mulai mengadopsi standar etika jurnalistik. Mereka harus belajar cara verifikasi yang benar, bertanggung jawab hukum, dan membangun struktur akuntabilitas yang jelas.

Sebab, pada akhirnya, di tengah tsunami informasi yang melanda dunia kita saat ini, publik tidak pernah kekurangan berita. Kita justru sedang surplus informasi.

Yang semakin langka dan harganya mahal hari ini adalah rasa percaya.

Siapa yang akan memenangkan masa depan? Bukan dia yang paling besar gedungnya. Bukan juga dia yang paling banyak karyawannya. Pemenangnya adalah siapa saja—apakah itu media konvensional yang bertransformasi, atau homeless media yang naik kelas—yang paling mampu menjaga etika, konsisten melakukan verifikasi, dan pada akhirnya berhasil menggenggam kepercayaan publik.

Di situlah jangkar masa depan pers kita akan berlabuh.

*)Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya. 

Editor : Sopii

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru