Oleh: Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom *
BEBERAPA tahun lalu, dunia menyambut ChatGPT dengan decak kagum. Dalam hitungan bulan, ratusan juta orang jatuh cinta pada kemampuan kecerdasan buatan (AI) yang bisa menjawab apa saja, mulai dari resep rendang hingga teori fisika kuantum. Kita merasa sedang melangkah ke masa depan yang cerah. Namun, di balik panggung teknologi yang berkilauan itu, ada sebuah kenyataan pahit yang kini mulai telanjang yaitu AI sedang membangun imperiumnya di atas puing-puing kreativitas manusia yang mereka jarah secara massal.
Pidato yang disampaikan oleh pemimpin redaksi The New York Times berjudul AI, Journalism and the Uncertein Future of the Public Square bukan sekadar keluhan sebuah industri yang ketakutan. Ini adalah sebuah alarm darurat bagi masa depan informasi, sebuah peringatan bahwa jika kita membiarkan raksasa teknologi (Big Tech) terus bertindak parasit, kita sedang berjalan sukarela menuju era kegelapan informasi.
Mari kita bedah anatomi dari apa yang disebut kecerdasan AI. Sebuah model bahasa besar tidak mendadak pintar karena keajaiban kode pemrograman semata. AI bisa menjawab pertanyaan kita dengan bahasa yang runtut dan kaya data karena mereka memakan miliaran artikel, buku, musik, dan karya jurnalistik yang diproduksi oleh manusia.
Ironisnya, perusahaan AI memperlakukan data ini seperti udara. Seolah-olah gratis dan bisa dihirup oleh siapa saja tanpa izin. Mereka membayar miliaran dolar untuk talenta insinyur mereka, membeli cip Nvidia yang mahal, dan menyedot energi listrik raksasa untuk pusat data mereka. Namun, ketika bicara soal bahan bakar utamanya yaitu konten berhak cipta, mereka mendadak amnesia dan menolak membayar. Ini adalah dosa asal industri AI. Mereka mencurian kekayaan intelektual dalam skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Tapi, karena AI tidak beragama, dia tidak mengenal dosa. Bahkan tidak mengenal surge dan neraka.
Ketika bot AI merampas artikel investigasi yang didanai sangat besar oleh redaksi, lalu merangkumnya secara gratis kepada pengguna, mereka sedang memutus urat nadi ekonomi jurnalisme. Di era internet dulu, Google mungkin mengambil jatah iklan terbesar, tetapi mereka masih baik hati mengirimkan pembaca ke situs berita lewat klik tautan. Di era AI, jangankan mengklik tautan, melihat nama media yang meliputnya pun kita jarang. AI merangkumnya, mengklaimnya sebagai jawaban mereka, dan meninggalkan organisasi media dalam kondisi sekarat tanpa trafik dan tanpa pendapatan iklan.
Sebagian orang mungkin mengangkat bahu dan berkata, "Ah, itu kan masalah internal industri media. Zaman berubah, mereka harus adaptasi!" Wow…Pikiran seperti ini sangat berbahaya. Kita harus paham bahwa AI tidak bisa pergi ke garis depan medan perang di Gaza. AI tidak bisa melakukan investigasi berbulan-bulan untuk membongkar korupsi pejabat publik. AI tidak bisa mewawancarai saksi mata di lokasi bencana. Yang melakukan kerja berat, mahal, dan sering kali bertaruh nyawa itu adalah para jurnalis manusia. AI hanyalah makelar yang mengemas ulang kerja keras tersebut.
Jika organisasi berita bangkrut karena sisa darah ekonominya terus diisap oleh AI, siapa lagi yang akan mengisi ruang publik dengan fakta yang terverifikasi?
Dampaknya sudah mulai kita rasakan sekarang. Internet mulai dibanjiri oleh sampah digital. Konten-konten buatan robot yang dibuat murah demi mengejar algoritma. Celakanya, AI sangat sering mengalami halusinasi. Mereka bisa salah, tetapi menyampaikannya dengan nada yang sangat meyakinkan (confidently wrong). Ketika Charlie Kirk dikabarkan meninggal tahun lalu, chatbot AI dengan percaya diri memberikan informasi yang saling bertentangan dan salah. Bayangkan jika dalam pemilu, krisis kesehatan, atau konflik sosial, masyarakat menyandarkan informasinya pada mesin yang tidak memiliki komitmen moral pada kebenaran. Kita tidak hanya akan memercayai hal yang salah, tetapi kita akan sampai pada titik di mana kita tidak mempercayai apa pun lagi. Itu adalah resep sempurna menuju kehancuran demokrasi.
Bukan Anti-Teknologi, tapi Anti-Eksploitasi
Langkah The New York Times menggugat OpenAI dan Microsoft ke pengadilan adalah sebuah deklarasi perang yang penting. Ini bukan sikap keras kepala sebuah institusi kuno yang anti-kemajuan. Industri media justru harus merangkul AI untuk membantu penyuntingan, riset data, atau distribusi berita. Yang dilawan di sini bukanlah teknologinya, melainkan perilaku eksploitatif dari perusahaan di belakangnya.
Kita tidak boleh naif lagi seperti saat menyambut media sosial dua dekade. Kali ini, jurnalisme global harus bersatu. Ada beberapa langkah konkret yang harus diambil. Pertama, regulasi pemerintah harus tegas: paksa bot AI mengidentifikasi diri dan bayar royalti yang adil atas setiap jengkal konten yang mereka sikat. Kedua, organisasi media harus berhenti menjadi budak platform pihak ketiga dan mulai membangun hubungan langsung dengan audiens melalui model langganan mandiri.
Pada akhirnya, di tengah lautan hoaks dan informasi buatan mesin yang kian pekat, jurnalisme orisinal yang independen akan menjadi barang mewah yang paling dicari. Publik mungkin mulai bosan dengan rangkuman AI yang hambar, dan survei membuktikan bahwa ketika masyarakat ingin memverifikasi sebuah rumor, chatbot AI berada di urutan paling buncit, sementara media tepercaya tetap menjadi rujukan utama.
Revolusi AI adalah tsunami yang tidak bisa dibendung, tetapi kita punya pilihan yaitu apakah kita akan membiarkan jurnalisme tenggelam dan mati, atau kita memaksa para raksasa teknologi ini untuk ikut membangun ekosistem yang sehat? Ruang publik yang waras dan masa depan demokrasi kita, dipertaruhkan dalam jawaban atas pertanyaan ini.
*) Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom adalah praktisi media dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya
Editor : Imam Ghozali