JAPFA for Kids Menuju Generasi Emas Zero Stunting

Telurisasi MBG dan Cerita Mas Dar Kepala BGN Sejak Kecil Banyak Makan Telur

Reporter : Imam Ghozali
Siswa SD Kemantren peserta pelatihan catur mengupas telur yang dibagikan dalam rangkaian JAPFA for Kids di SD Kemantren, Paciran, Lamongan, Rabu (20/5/2026). Ridoi/Duta

SURABAYA | harianduta.id  - Telur, hampir semua tahu dan mengenalnya sebagai menu paling mudah disajikan dan lezat sebagai lauk. Tidak hanya di kota, telur yang mudah didapatkan dengan harga terjangkau. Satu kg kisaran Rp 20 ribu – Rp 25 ribu sudah bisa dapatkan 15 telur ukuran besar atau 20 butir telur kalau ukuran kecil.

Sementara di desa telur menjadi makanan harian yang mudah didapatkan karena banyak yang memelihara unggas (ayam, bebek, angsa) dibuat lauk sendiri atau dijual. Hampir di semua rumah di desa punya peliharaan ayam, bebek dan orang desa sudah terbiasa makan telur dibuat kreasi yang bermacam-macam sehingga menarik.

Telur telah lama dikenal sebagai salah satu makanan berprotein tinggi. Juga ada karbohidrat yang merupakan sumber energi utama bagi tubuh selain kalsium, zat besi, magnesium,  fosfor, kalium dan vitamin A.

Ada beragam jenis telur yang bisa diberikan kepada anak, yakni telur bebek, telur ayam, atau telur puyuh. Walau berasal dari hewan yang berbeda, tapi ketiga jenis telur ini sama-sama bernutrisi dan baik untuk kesehatan anak.

Cerita Mas Dar Dari Kecil Banyak Makan Telur 

Telur terbukti memiliki kandungan gizi yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Masyarakat desa kebanyakan memiliki ayam yang telurnya bisa dibuat lauk harian sekeluarga, dan kalau pas ada momen tertentu ayamnya disembelih buat selamatan.

Karena pentingnya telur bagi asupan gizi anak, tidak jarang orangtua menambahkan terigu dengan telur agar semua bisa menikmati telur dadar di tengah keterbatasan budget.

Kisah Sudaryono atau akrab disapa Mas Dar yang kini didapuk menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S. Deyang mengenang masa kecilnya yang suka makan telur sangat menarik dan bisa menjadi inspirasi buat semua bahwa pentingnya asupan gizi bagi anak.

Mas Dar bercerita dirinya berasal dari desa dan bukan dari kalangan kelas atas. Namun, ia selalu menjaga gizinya dengan banyak memakan telur dari ayam peliharaan keluarga.

"Saya adalah orang yang lahir di desa, ibu saya memelihara ayam di rumah dan saya adalah efek dari makan bergizi. Mohon maaf, mungkin kami bukan orang kaya, tapi kami dari kecil biasa makan telur banyak karena kami pelihara ayam di rumah sehingga memang gizi itu penting," ucap Sudaryono di Istana Negara usai pelantikannya seperti dilansir Kumparan.com.

Sudaryono menegaskan pemenuhan gizi terhadap anak itu sungguh penting. Baginya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai tindakan nyata pemerintah untuk memberi gizi pada anak, bukan sekadar imbauan.

"Ya gizi itu penting. Kadang-kadang orang itu melihat kenyangnya karena memang kemampuannya. Dan di sini adalah program MBG ini adalah sentuhan langsung program pemerintah yang langsung orang lapar dikasih makan, orang butuh gizi dikasih gizi. Tidak bisa kemudian hanya dikasih imbauan-imbauan," ucap Sudaryono.

Selain pemenuhan gizi, Sudaryono menegaskan program MBG bisa menyerap roda perekonomian lokal. Menurutnya, berkat MBG, besarnya APBN kini bergerak di tengah masyarakat.

"Dan efeknya adalah dengan memberikan gizi, tapi efeknya adalah meng-absorb ekonomi lokal khususnya peternak, khususnya nelayan, khususnya kemudian petani kita di daerah. Ini adalah program dari rakyat untuk rakyat. Dana APBN yang besar itu kemudian beredar di desa-desa," tutur dia.

Sudaryono pun mengaku yakin dengan efek perekonomian tersebut karena tampak nyata selama dirinya menjadi Wakil Menteri Pertanian Kabinet Merah Putih.

"Karena background saya Wakil Menteri Pertanian dan selama dua tahun ini berada di Kementerian Pertanian, melihat langsung bagaimana efeknya. Kami melihat bagaimana manfaatnya kepada ekonomi kita di desa-desa yang dirasakan secara penuh oleh masyarakat kita khususnya petani, peternak dan lain-lain," tegasnya.

Libatkan Pemasok Lokal dalam Ekosistem MBG

Jatim mempertahankan posisinya sebagai produsen telur ayam terbesar nasional, menghasilkan 2 juta ton atau sekitar 32�ri produksi 2025.  Produksi Sapi Indonesia Hampir 500 Ribu Ton pada 2025, Jawa Timur Penghasil Terbesar. Produksi daging sapi di Indonesia pada 2025 mencapai 499.150 ton pada 2025.  Demikianhalnya produksi ikan tangkap dan ikan budidaya, Jatim surplus.

Pemerintah saat ini tengah membangun pola kerja yang lebih kolaboratif antara SPPG dan pelaku ekonomi lokal. Melalui skema tersebut, kebutuhan bahan pangan program MBG diharapkan dapat menyerap hasil produksi masyarakat sekitar sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional, Tengku Syahdana mengatakan upaya membantu peternak saat harga telur turun, BGN mengimbau SPPG meningkatkan penggunaan telur dalam menu MBG. BGN juga mendorong seluruh dapur MBG agar memprioritaskan pembelian bahan baku dari pelaku usaha terdekat. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

“Model sinergi ekonomi kerakyatan tersebut sebelumnya telah diterapkan di sejumlah daerah, seperti Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat. Upaya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah itu mendapat respons positif karena mampu memperkuat pasar lokal dan menjaga stabilitas harga pangan. “

Pemerintah Kabupaten Magetan menyambut baik langkah ini karena dinilai relevan dengan kondisi Magetan yang kerap menghadapi surplus produksi sejumlah komoditas pertanian dan peternakan, sementara daya serap pasar belum optimal.

“Setiap SPPG harus mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya dengan melibatkan sedikitnya 15 pemasok lokal. Program MBG harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Warga tidak boleh hanya jadi penonton, harus menjadi bagian ekosistem yang tumbuh dan berkembang bersama program ini," kata Tengku dalam kunjungannya ke Magetan beberapa waktu lalu.

Bupati Magetan Bunda Nanik mengatakan program MBG mulai menunjukkan dampak lebih luas, tidak hanya dalam pemenuhan gizi masyarakat, juga penggerak ekonomi daerah. Selain menyerap tenaga kerja dan relawan, program ini turut membuka peluang usaha bagi UMKM, koperasi, petani, dan peternak lokal.

“Kami pastikan Pemkab Magetan mendukung program MBG, Satgas Pangan selalu bersinergi dengan perwakilan BGN di Kabupaten Magetan”, ujar Bunda Nanik

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Badan Kebijakan  Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemkes RI 26 Mei 2025, prevalensi stunting Jatim  turun signifikan menjadi 14,7 persen, terbaik kedua nasional setelah Bali. Terdapat 22 kabupaten/kota atau sebanyak  70,96% yang mengalami penurunan dan 9 kabupation/kota atau 29,04% mengalami kenaikan dibanding tahun 2023. Dari 31 kabupaten/kota, beberapa menunjukkan  perubahan menggembirakan.

Di sisi lain, masih ada wilayah yang tertatih dalam pusaran gizi buruk kronis  menjadi pekerjaan Pemprov Jatim menuntaskan. Kabupaten Trenggalek  juara baru  penurunan stunting dengan angka  6,7%, disusul Lamongan (6,9%), dan Kediri (7,9%). Sementara Kabupaten Jember (30,4%), Pasuruan (26,1%), dan Kota Batu (24,5%) masih berkutat dalam angka yang mengkhawatirkan.

Melawan Stigma Negatif Telur Penyebab Alergi

Dibalik nilai gizinya yang sempurna, telur di sebagian masyarakat harus melawan stigma negatif menjadi penyebab alergi. Sehingga tidak sedikit orangtua yang menghindari menu telur. Padahal penyebab alergi bukan semata dari telur, bisa jadi bahan lain seperti ikan laut dan sejenisnya.

Rania Yasmin Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) mengatakan telur adalah sarapan terbaik.  Telur sangat cocok sebagai sarapan karena mengandung protein dan lemak yang baik sehingga memberikan energi yang stabil tanpa ada rasa ngantuk di siang hari karena komposisi gizinya yang seimbang.

“Untuk orang yang hanya makan kuning atau putih telur, kuning telur mengandung sebagian besar nutrisi seperti vitamin dan mineral. Telur merupakan bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan, dan susu. Telur yang dikonsumsi oleh manusia umumnya berasal dari beberapa jenis unggas, seperti ayam, bebek, dan angsa.”

Rania menegaskan stigma negatif tentang telur makin melekat dengan minimnya literasi gizi tantang kandungan gizi telur. Disinilah peran selurh stake holder termasuk perusahaan produsen makanan minuman untuk edukasi tentang amannya konsumsi telur buat anak dan memang sangat diperlukan buat tumbuh kembang anak maksimal.

“Telur merupakan sumber asam amino, kolin, dan omega-3 yang baik. Kandungan nutrisi tersebut dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan saraf serta jaringan otak anak, sehingga kecerdasan Si Kecil dapat meningkat.”

Untuk mencapai tumbuh kembang yang baik, anak-anak membutuhkan beragam nutrisi, seperti protein, lemak, karbohidrat, serta aneka vitamin dan mineral. Berbagai nutrisi tersebut bisa diperoleh dari telur dan makanan sehat lainnya, seperti susu, ikan, buah, sayuran, daging, dan kacang-kacangan.

Itulah beragam manfaat telur untuk anak yang perlu ketahui orangtua. Selain memiliki rasa yang enak dan disukai oleh banyak anak, pengolahan telur pun sangat praktis dan tidak menyita banyak waktu.

“Kuncinya pada proses sebelum disajikan.  Pastikan telah memasaknya hingga matang. Telur mentah atau setengah matang bisa mengandung bakteri yang dapat menyebabkan anak-anak mengalami keracunan. Sebagian anak mungkin bisa mengalami alergi setelah mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.”

18 Tahun Japfa for Kids Songsong Generasi Emas

Selama 18 tahun, Program JAPFA for Kids yang diinisiasi oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk merupakan komitmen jangka panjang perusahaan mendukung kualitas kesehatan anak Indonesia. Untuk tahun 2026 ini di Jatim Japfa kembali turun langsung ke lapangan menggelar pelatihan dan edukasi gizi di SD Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur Rabu (20/5/2026).

Di Kecamatan Paciran, program ini melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah. Selain memberikan pelatihan kepada tenaga pengajar, JAPFA juga membagikan telur kepada para siswa sebagai bagian dari program pemenuhan protein hewani bagi anak-anak.

Suasana pembagian telur berlangsung antusias. Sejumlah siswa tampak senang menerima bantuan tersebut, bahkan beberapa di antaranya langsung mengupas dan memakan telur yang dibagikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pemulihan dan peningkatan gizi anak.

Indy Puspa Siswi kelas 3 SD Kemantren Paciran mengaku sangat senang dengan program ini karena mendapatkan telur untuk bekal ataupun dimakan saat di rumah. "Suka makan telur, ibu juga sering masakin telur dirumah. Kesukaan saya itu telur mata sapi ditambah saos dan garam dikit sudah bisa buat lauk."

Fathan Alfarizqi, siswa Kelas 4 SD Kemantren Paciran sangat antusias dengan program ini. Karena di rumah jarang masak bahan baku telur, karena kebetulan orangtuanya nelayan sehingga sering mendapatkan ikan segar.

"Iya suka mendapatkan telur. Ini langsung dimakan, bikin kenyang juga ini, cukup direbus dimakan sama saus sudah enak. Di rumah jarang masak telur seringnya ikan laut. Pastinya senang dengan mendapatkan telur dalam beberapa bulan ke depan. Semoga di rumah setelah program selesai, mama sering masak telur."

Azizah (40) salah satu ibu dari orangtua siswa kelas 4 SD Kemantren yang ditemui mengatakan program bagi-bagi telur yang dilakukan Japfa sangat membantu mengenalkan telur sebagai salah satu menu di rumah yang bergizi yang selama ini justru jarang disajikan.

“Tahu sendiri di Paciran kan ikan laut melimpah dan mudah didapatakan. La kalau banyak lauk, kenapa masih mencari lauk dari jenis lain. Baru tahu ternyata asupan gizi seimbang sangat diperlukan buat anak tumbuh maksimal. Telur salah satu jenis lauk yang jarang disajikan disini, lebih banyak lauk ikan.”

Menurutnya perlunya edukasi berkelanjutan kepada mak mak siswa yang mendapatkan bantuan program bagi telur ini. Karena masih banyak mak mak yang tidak paham manfaat dari telur yang sangat bagus buat tumbuh kembang anak maksimal.

“Biar tidak stunting, kurang gizi dan tumbuh sehat dengan tinggi badan maksimal. Tidak lupa juga perlu diksih tahu bagaimana cara mengolah menu telur tetap bergizi sehingga bervariasi jenisnya. Tidak saja Cuma di rebus, di ceplok ataupun dadar.”

Kepala SD Kemantren Paciran, Musri, menyambut positif program tersebut. Program “one day one egg” dan pelatihan guru sangat membantu sekolah meningkatkan perhatian terhadap kesehatan siswa.

“Program seperti ini sangat bagus dan sangat mendukung. Baru pertama kali ada program dari pihak luar dengan model seperti sekarang,” katanya.

Ia menyebut kondisi kesehatan siswa di SD Kemantren secara umum cukup baik karena sebagian besar anak mendapatkan asupan protein hewani dari ikan, mengingat wilayah sekolah berada di kawasan pesisir.

Saat ini jumlah siswa di SD Kemantren mencapai sekitar 153 anak. Dari hasil pemantauan sekolah terhadap siswa kelas 1 hingga kelas 5, kondisi pertumbuhan anak dinilai cukup baik dan tidak ditemukan kasus stunting.

Musri berharap program dari Japfa dapat terus berjalan dan dikembangkan, terutama dalam mendukung pemenuhan protein anak-anak melalui variasi menu seperti ikan, telur, dan ayam. Dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan pertumbuhan dan kesehatan anak berjalan optimal.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan program tersebut menjadi bagian peringatan 18 tahun JAPFA for Kids berfokus edukasi kesehatan dan pemenuhan gizi anak di berbagai daerah di Indonesia.

“Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir komit berkelanjutan perusahaan mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” ujarnya.

Tidak Cuma Bagi Telur, Juga Edukasi Kesehatan

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti menambahkan program JAPFA for Kids dijalankan melalui berbagai strategi terintegrasi. Target keseluruhan pada tahun 2026 ini sebanyak 16.000 penerima manfaat yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pada program Japfa for Kids tahun 2023 lalu dilakukan di Kecamatan Manyar, 3.044 siswa yang terperiksa, 636 siswa yang terjaring gizi kurang dan gizi buruk. Pada akhir program, berhasil meningkatkan 492 siswa menjadi gizi baik. Satu indikasi bahwa program Japfa for Kids mampu mengentaskan ratusan siswa terbebas dari gizi buruk menjadi baik.

“Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA,” jelasnya.

Selain itu, program tersebut juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala untuk memastikan hasil program dapat terukur secara konsisten. Program "One Day One Egg" inisiatif CSR JAPFA for Kids terbukti sangat efektif sebagai intervensi penanganan malnutrisi dan pencegahan stunting pada anak.

Data JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1% siswa masih mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Menunjukkan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Retno Artsanti percaya membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.

“Hingga tahun 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. “

Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.

Krisis Literasi Gizi dan Konstruksi Sosial

Penyebab utama stunting tidak lepas dari rendahnya literasi gizi sehingga berdampak pada gizi buruk.  Pemenuhan gizi seimbang sangat menentukan buat tumbuh kembang anak pada masa golden age. Usia 0-5 tahun merupakan golden age atau  1000 hari pertama kehidupan.  Dimana 80% perkembangan otak dan tinggi badan orang dewasa sudah terbentuk di masa ini. Kalau gizinya kurang sekarang, efeknya terbawa sampai besar. Dilanjutkan masa kedua yakni anak-anak sampai remaja.

Di masa krusial ini pula, banyak orangtua kususnya ibu-ibu tidak paham dengan asupan gizi yang diberikan kepada anak-anaknya. Seringkali orangtua tidak menyadari karena di wilayahnya penghasil produk ikan, lupa bahwa asupan gizi tidak hanya ikan, ada telur dan daging yang dubutuhkan anak buat tumbuh kembang maksimal.

Menarik analisa Agustina Widyawati, S.Sos,.M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik, tidak sedikit daerah penghasil ikan laut, kenyataannya justru prevalensi anak stunting masih tinggi. Kabupaten Lamongan dikenal sebagai pusat penghasil ikan laut, pastinya melimpah dengan aneka ikan buat lauk.

“Dari kacamata komunikasi perubahan perilaku (Behavior Change Communication) dan sosiologi komunikasi, ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan krisis literasi gizi dan konstruksi sosial,” jelas Widya.

Widya menegaskan dengan perbandingan komodifikasi vs Konsumsi. Ikan tangkapan dinilai sebagai komoditas ekonomi utama (untuk dijual demi kebutuhan lain), bukan untuk konsumsi domestik. Ada bias psikologis di mana keluarga merasa rugi memakan ikan yang bernilai jual tinggi. Jadi memilih menjual nya saja.

“Disisi lain ada fenomena  makanan instan dan pergeseran gaya hidup. Media massa dan iklan digital berhasil mengonstruksi bahwa makanan instan/pabrikan itu modern, praktis, dan disukai anak. Sementara itu, mengolah ikan segar dianggap repot. Terjadi kegagalan media literacy di mana kecepatan penyajian mengalahkan substansi nilai gizi. Ini yang terjadi di Paciran, dan daerah penghasil ikan lain di Indonesia,” jelas Widya.

Pemerintah tidak bisa lagi menggunakan strategi komunikasi satu arah (top-down) yang kaku. Solusi terbaiknya adalah Komunikasi Partisipatif dan Edukasi Berbasis Budaya Lokal.

“Misal ubah narasi gizi dari yang teoretis ("mengandung omega-3") menjadi narasi kebanggaan lokal dan praktis ("Ikan lokal bikin anak cerdas dan jagoan"). Makanan harus seimbang, salah satunya telur dan daging yang perlu buat tumbuh kembang anak. Pemanfaatan opinion leaders juga penting. Gerakkan "Mak-Mak" berpengaruh di komunitas (kader Posyandu, tokoh Muslimat/Aisyiyah, micro-influencer lokal) untuk menjadi agen perubahan melalui demo masak MPASI (Makanan Pendamping ASI) berbasis ikan yang murah dan cepat, menandingi kepraktisan makanan instan.”

Karena Widya sangat setuju dengan program Japfa for Kids, dimana di lokasi penghasil ikan, seringkali konsumsi telur diabaikan karena tidak lebih bagus dari gizi ikan. Padahal kompleksitas gizi seimbang sangat dibutuhkan masa tumbuh kembang anak secara maksimal.

Satu butir telur paket komplit paling murah dan mudah disajikan, mau direbus, di orak-arik ataupun dikemas dengan bahan lain.

“Ada protein top untuk otak, mata, tulang, darah dalam 1 butir telur. Proteinnya lengkap, semua asam amino esensial ada. Gampang dicerna anak, murah, cepat masak, tekstur lembut cocok buat MPASI 6 bulan+2. Bagi anak-anak yang tidak dikenalkan telur sejak awal, tidak mudah juga. Apalagi banyak stigma negatif banyak makan telur bisa bintilan, alergi dan sejenisnya. Padahal telur manfaatnya sangat banyak bagi pertumbuhan anak.”

Bagi Widya stunting terjadi bukan hanya karena kurang makan, melainkan karena kurangnya asupan protein hewani berkualitas tinggi. Telur sering kali disebut sebagai superfood untuk pertumbuhan karena:

“Telur mengandung profil asam amino esensial yang sangat lengkap dan mudah diserap oleh tubuh anak (Biological Value yang tinggi) untuk membangun jaringan otot, tulang, dan mendukung perkembangan otak.”

“Pemberian telur dibarengi dengan edukasi kepada pihak sekolah (guru) dan orang tua. Tanpa pemahaman orang tua, telur bantuan berisiko dikonsumsi oleh anggota keluarga yang lain, atau anak tetap tidak mendapatkan gizi seimbang dari menu makanan utamanya,” kata Widyawati.

“Keberhasilan penurunan stunting yang masif (seperti contoh sinergi swasta di wilayah pesisir Lamongan yang berhasil menekan angka stunting secara drastis) membuktikan bahwa intervensi makanan tambahan paling efektif jika didukung oleh pemantauan aktif dari Puskesmas dan kader posyandu.”

Lamongan Berhasil mencapai target dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yakni 12,3 persen tahun 2024.  Penurunan kasus stunting di Lamongan hasil dari ragam upaya yang telah dilakukan. Karena upaya penurunan stunting di Kabupaten Lamongan dilakukan secara bertahap. Tidak hanya fokus pada penanganan penderita, melainkan ada edukasi pada orang tua hingga remaja. Imam ghozali

 

Editor : Imam Ghozali

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru