Oleh: Dr. M Sholeh Basyari*

Siapa Sekjen Gus Kikin?

Reporter : Redaksi
Dr M Sholeh Basyari (Direktur Eksekutif CSIIS dan Dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo)

Secara definitif, Gus Kikin menyebut Gudfan Arif sebagai Bendahara Umum PBNU periode 2026-2031. Hal itu disampaikan dalam jumpa pers Jumat kemarin di kantor PBNU, Jakarta. 


Gus Kikin menyampaikan itu, didampingi oleh Asrorun Ni'am Sholeh dan Gudfan. Hampir pasti, posisi Katib Aam menjadi milik Ketua Umum Majelis Alumni IPNU tersebut. Lantas  siapa Sekretaris Jenderal PBNU yang dipilih Gus Kikin?


Gus Kikin Tidak Terjebak Balas Jasa


Selepas muktamar berikut tersusunnya formatur, posisi Sekjen menjadi yang paling seksi diperbincangkan.  Secara diplomatis Gus Kikin ingin melakukan istikharah dulu untuk menyempurnakan kepengurusan. Tampaknya, publik melihat  istikharah lebih sebagai "jeda" dan cooling down dari ketatnya persaingan menuju Sekjen. 


Saifullah Yusuf, Nusron Wahid, Lukman Edy (inisiator utama acara "Bedah Qonun Asasi") hingga Syamsul Maarif (Ketua PWNU DKI Jakarta) diwacanakan banyak kalangan ideal sebagai Sekjen. 


Sejumlah tokoh sekaligus penasehat politik Gus Kikin seperti Kacung  Marijan, mewanti-wanti Gus Kikin untuk tidak mengulang apa yang terjadi terhadap Yahya Tsaquf. 


Mengulang dalam arti, memilih Sekjen yang potensial menjadi matahari kembar, merasa paling berjasa atas kemenangannya pada muktamar serta hanya semata pertimbangan balas jasa. Wanti-wanti sekaligus warning dari Kacung ini jelas menyasar Luman Edy,  Saifullah Yusuf dan Nusron.


Ada baiknya Gus Kiikin "belajar" dari Muhaimin Iskandar terkait pilihan terbaik  Sekjen PBNU. Menyadari bahwa Sekjen adalah posisi sentral, Cak Imin "trauma" dengan Sekjen model Lukman Edy, Abdul Kadir Karding maupun tipe Saifullah Yusuf. 


Pada akhirnya Sekjen ideal ala Cak Imin adalah tipe Hasanudin Wahid (cak Udin). 

Gus Kikin idealnya tidak terpengaruh oleh nama-nama besar untuk dipertimbangkan sebagai Sekjen. 


Gus Kikin harus pula menipis back up dan intervensi siapapun (termasuk Rois Aam)  terkait kandidat Sekjen. Publik meyakini, sebagai cicit Hadratus Syeikh, Gus Kikin independen, mandiri dan menentukan secara bebas tipe Sekjen yang dibutuhkan.


Di samping itu, mendesak untuk disosialisasikan bahwa kemenangan Gus Kikin adalah kemenangan semua warga nahdliyin. Dari sini  langkah konkret yang niscaya dilakukan oleh Gus Kikin adalah menyusun kabinetnya dengan berdasar semua kekuatan, semua kubu dan semua potensi yang dimiliki oleh NU. 


Dengan komposisi kabinet seperti itu, representasi dan wajah NU dibawah Gus Kikin mewujud sebagai wajah NU yang sumringah, fresh, natural dan base on unity. 


Tanpa itu, kabinet Gus Kikin dikawatirkan sekedar face off dari kabinet hasil muktamar Lampung. Kenapa? Karena setidaknya ada dua posisi sentral yang masih bercokol orang lama produk Lampung, Miftahul Akhyar dan Gudfan Arif.


*Dr M Sholeh Basyari, Direktur Eksekutif CSIIS dan Dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Minggu, 30 Agu 2026 17:29 WIB
Minggu, 30 Agu 2026 16:02 WIB
Sabtu, 05 Sep 2026 13:35 WIB
Berita Terbaru