#JNEBeragamCerita

Perjuangan Mak Mak Bersatu Bergerak Melawan Bank Keliling dan Rentenir

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Sekumpulan mak mak di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro sedang mengupas, memotong dan menyetor bawang putih sebelum diproses menjadi keripik bawang putih. (dok)
Sekumpulan mak mak di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro sedang mengupas, memotong dan menyetor bawang putih sebelum diproses menjadi keripik bawang putih. (dok)

i

JEMBER | harianduta.id - Bulan lalu ketika saya ikut ke rumah temannya ayah di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro Kabupaten Jember tertarik dengan kerumunan mak mak usia 25-35 tahun berkumpul. Dalam pikiranku pasti mereka sedang bergosip seperti kebanyakan mak mak kalau berkumpul.

Namun pikiran negatifku berubah ketika melihat dari dekat mereka bawa pisau mengupas, memotong dan menyetor bawang putih. Ketika kuhampiri, ada obrolan ringan yang mereka bincangkan tentang banyak hal, sambil bergurau dengan celetukan saling bersahutan mereka tetap mengupas dan memotong bawang putih. Ada diantara mereka yang datang sambil membawa kupasan yang sudah dilakukan di rumah masing -masing.

“Entuk piro kilo mak (dapat berapa kilo mak),” tanya salah satu perempuan yang sedang duduk bernama Siti Hapsah. Seketika dijawab “ Lumayan gawe tambal butuh (lumayan buat tambah keburuhan.” Katanya.

Untuk apa mereka mengupas dan memotong bawang putih tersebut, dibuat masak bersamakah? Ternyata tidak, mereka menjadi bagian sekitar 25 mak mak yang membantu mengupas dan memotong bawang putih untuk diproses menjadi keripik bawang.

Langsung pikiranku terbawa pada tema #JNE yang menggelar kompetisi #JNEContentCompetition2026 bagaimana mereka bisa berkumpul berbahagia #ConnectingHappiness dan bersama #JNE35BergerakBersama  dengan #JNEBeragamCerita.

Ternyata mereka membantu kupas bahan baku untuk dibuat Keripik bawang, salah satu produk yang sedang hits dan banyak dicari di e-commerce dan media sosial diproduksi dan dikembangkan oleh UMKM Jember Fam yang dikomandani Mohammad Zainul Aris (43) dengan Mohammad Ihsan (46).

Langsung saja kutemui  dan kuajak ngobrol Mohammad Zainul Aris yang biasa dipangil Aris dan Mohammad Ihsan. Keduanya mengaku miris dan prihatin banyaknya keluarga yang kena jebakan bank titil, bank plecit dan rentenir di sekitar rumahnya. Atas dasar itu juga yang membuatnya keduanya semangat berinisiatif bagaimana memberdayakan mak mak di sekitar rumahnya.

“Setelah putar otak produk apa yang bisa dikerjakan mak mak di rumah, namun mendapatkan pemasukan, akhirnya lahirlah produk keripik bawang akhir 2025 lalu.  Awal produksi skala kecil dan kita tawarkan ke digital marketing dan diberi nama Garlic Bites.”

Aris mengaku keripik bawang lahir dari dua faktor, semangat memberdayakan mak mak agar mendapatkan tambahan pemasukan dan bisa melawan rayuan pinjaman bank keliling, bank plecit dan rentenir.

“Faktor lain karena peluang besar dari produk bawang yang diformulasikan dalam bentuk keripik. Khasiat bawang putih terkenal dan sangat dibutuhkan tubuh. Prosesnya bawang putih dikupas kemudian dipotong kecil sesuai kebutuhan. Dan di proses inilah perlu tenaga mak mak,” jelas Aris.

Aris menambahkan proses otak atik keripik bawang putih dilakukan sejak awal tahun dan mulai produksi akhir 2025.  Alhamdulillah penjualan terus meningkat sehingga makin banyak dibutuhkan tukang kupas bawang putih.

“Makin besar omset penjualan, makin besar pula kebutuhan kupasan bawang putih yang dibutuhkan. Untuk itu, saya mengajak dan memberdayakan para tetangga rumah bergabung daripada gabut, hanya kumpul-kumpul ngrumpi dan bergosip. Banyak yang tertarik, sampai saat ini ada sekitar 25  orang semuanya perempuan usia 25-35 tahun,” jelas Aris.

Karena tugasnya hanya mengupas dan membelah bawang jelas Aris ongkos per kilo sebesar Rp 3.000. Dengan sistimnya borongan mereka bisa bawa dan dikerjakan di rumah masing-masing. Dan tiap sore dikumpulkan disetorkan, ditimbang ke rumah diolah jadi keripik bawang.

“Rata-rata penghasilan mak mak Rp 100 - Rp 150 ribu per mingu per orang. Gaji dikasihkan setiap minggu sekali. Mereka senang dapat tambahan dan perlahan bisa mengurangi ketergantungan jeratan Bank keliling ataupun rentenir.”

Sri Minah (35), salah satu pengupas bawang yang kutemui mengaku sangat senang dengan pekerjaan ini. Selain bisa maksimalkan waktu tidak nganggur, juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan.

“Seminggu bisa dapat Rp 150 ribu bergantung jumlah kupasan yang disetor. Besaran pekerjaan dibagi rata sekitar 25 orang. Sehingga pendapatan tidak jauh beda. Sangat membantu sekali memenuhi kebutuhan keluarga,” tegas Sri Minah.

Sri Minah mengaku dengan pendapatan tambahan yang didapatnya tiap minggu sebagai pengupas bawang putih mengurangi keinginannya untuk memimjam uang dari bank keliling yang hampir tiap hari lewat.

“Awalnya ringan, kalau tidak bisa bayar membesar bunganya. Tidak sedikit teman-teman yang terjebak, awalnya pinjam Rp 500 ribu, karena tidak dibayar menjadi besar dan terus meningkat jumlahnya.”  

Aris mengaku tergerak hatinya memberdayakan mak mak sekitar rumah dengan memberinya pekerjaan agar bisa terlepas dari praktik rentenir, bank keliling dan sejenisnya. Kehadiran mereka masih mencekik warga melalui pinjaman berbunga tinggi.

“Tujuan awalnya memang bagaimana memberdayakan mak mak lebih berdaya dan menghasilkan uang tambahan,” jelas Aris.

Bank keliling, bank plecit ataupun rentenir menetapkan bunga tinggi sebesar 25-30% atau sebesar Rp 250.000 – Rp 300.000 untuk pinjaman 1.000.000 dalam sebulan. Yang awalnya membantu malah membuat mak mak terjebak.

Gandeng Digital Marketing Pasarkan Keripik Bawang

Untuk memperluas pemasaran produksi keripik bawang putih lebih luas menjangkau seluruh Indonesia, Aris melakukan kerjasama dengan digital marketing yang ada di Kota di Jember. Desa Sidomulyo sendiri kecamatan paling barat dari kota Jember dengan jarak sekitar 35 km.

Kerjasama dengan digital marketing Berkah Agro berdampak besar pada penjualan. Tingginya penjualan menyebabkan kebutuhan kupasan bawang putih menjadi lebih besar dan berdampak pada pemasukan mak mak yang bekerja part time sebagai pengupas.

“Pertama kali promosi langsung viral dan tetap bertahan sampai sekarang. Pertama kali produksi sehari 10 kg. Untuk  menghasilkan 10 kg keripik bawang putih paling tidak bahan baku itu sekitar 40 kg,” jelas Aris.

Aris menceritakan penjualan terus meningkat bahkan per hari bisa tembus 70 kg yang dipasarkan lewat online dan terus meningkat permintaan. Semua platform e-commerce ada, sehingga bisa mudah dijangkau pembeli dari seluruh Indonesia bahkan negara tetangga.

“Untuk bisa menghasilkan 70 kg keripik bawang bahan baku sehari dibutuhkan 2 kuintal bawang putih yang perlu dikupas dan dipotong. Harapannya penjualan konsisten sehingga bisa memberdayakan mak mak yang menganggur tidak punya kegiatan dan tambahan pemasukan. Bahan baku bawang dari Jember, belum perlu mengambil dari kota lain,” jelasnya.

Aris mengaku senang melihat mak mak datang menyetor hasil kupasan bawang putih ke rumah. Apalagi kalau waktunya bayaran, mereka bersemangat sekali dengan hasil yang didapatnya dalam seminggu.

“Angka Rp 150 ribu kalau di desa bisa dibilang besar. Kegembiraan mereka mendapatkan uang tambahan menjadi kebahagiaan tersendiri. Paling tidak mereka tidak mudah terjebak rayuan bank keliling yang bunganya sangat tinggi.”

Target Jember Farm Jadi Pusat Maklon Keripik

Berawal dari keinginan memberdayakan mak mak sekitar rumah, Aris dan Ihsan dengan Jember Farm mempunyai target besar jadi pusat maklon keripik. Sebelumnya bergerak di produksi keripik nangka, salak dan aneka buah. Namun karena salak dan nangka musiman, disela jeda musim diganti produk yang tidak mengenal musim yakni keripik bawang putih, bawang merah dan kini mencoba memproduksi keripik edamame.

Ihsan Direktur Jember Farm mengatakan ambisi besar tersebut didasari keinginan membantu mengentaskan ketergantungan mak mak dari jeratana bunga tinggi guna memenuhi keinginan bersolek, tampil cantik dan tampil dengan baju bagus, bukan kebutuhan harian.

“Untuk keripik bawang kita bebas dan terbuka bagi siapapun untuk maklon. Selain garlic bites, sudah ada beberapa maklon dengan brand tertentut yang siap bekerjasama dengan kita. Makin banyak produksi, sangat senang makin bisa memberdayakan mak mak sekitar pabrik. Selama ini kisaran 25 orang dengan makin besarnya permintaan bisa ditambah sesuai kebutuhan,” jelas Ihsan.

Ihsan menambahkan produksi keripik bawang saat ini dalam seminggu bisa menghasilkan 300 kg, dalam sebulan bisa mencapai 1,2 ton. Sementara bahan baku kupasan bawang putih yang dibutuhkan memenuhi produksi tersebut kurang lebih 4.000 kg atau 4 ton. Bahan baku bawang putih selama ini dipasok distributor dari Kota Jember dengan jenis bawang putih kating.

Ihsan menegaskan dengan formulasi yang sudah beberapa kali uji coba, akhirnya menemukan cara agar keripik bawang yang diproduksi tampilannya menarik, renyah dan kering. Tantangan formulasi baru iki bobot makin ringan, sehingga volume 100 gr kelihatan banyak.

“Maklon yang terbaru dengan brand Garlic Go dari digital marketing asal Kota Surabaya. Sementara satunya masih proses kerjasama,” ujar Ihsan.  

Dengan potensi dan peluang pasar yang masih terbuka, Ihsan optimistis permintaan keripik bawang putih tetap tinggi. Apalagi kesadaran akan kesehatan dengan konsumsi bahan alami terus meningkat, dan bawang putih dipercaya menjadi salah satu bahan yang sangat dibutuhkan tubuh.

“Untuk produk keripik edamame produksinya di Desa Tembokrejo Kecamatan Gumukmas, sekitar 10 km dari Kecamatan Semboro. Untuk edamame seminggu dibutuhkan 1 ton, sekitar 4 ton dalam sebulan. Bahan baku diambil dari kota Jember yang dikenal pusat edamame,” tegas Ihsan.

Ihsan menambahkan tidak jauh beda dengan bawang putih, produk kupas kedelai edamame juga membutuhkan jasa mak mak sekitar pabrik. Dan mereka sangat senang karena mendapatkan penghasilan tambahan daripada nagnggur ataupun hanya ngrumpi saja.

“Sementara ada belasan mak mak yang membantu mengupas edamame sebelum diolah. Konsepnya sama dengan yang bawang putih, borongan dan bisa dikerjakan di pusat produksi ataupun dibawa pulang. Cara inilah yang bisa kita lakukan membantu mak mak dari jeratan bunga tinggi.”

Ihsan mengakui kalau usaha yang dikembangkannya masih skala UMKM, namun melihat peluang sangat terbuka menjadi besar. Dari produksi yang ada baik itu keripik bawang putih dan edamame, 90 persen sudah diborong oleh digital marketing dengan konsep beli putus, sementara kisaran 10 persen dijual eceran sendiri.

“Untuk jual ecer kita menggunakan jasa logistik, salah satunya JNE. Jangkauan JNE di kabupaten Jember sampai di daerah pinggiran dengan handle cepat. Masukan buat JNE kalau ada harga kusus untuk UMKM sehingga memacu UMKM untuk berkembang pesat dengan pasar yang lebih luas.” (*)

 

 

Berita Terbaru

Kordinasi Antar OPD Lemah Jadi Kendala  Validasi Penerima Bansos di Sidoarjo

Kordinasi Antar OPD Lemah Jadi Kendala Validasi Penerima Bansos di Sidoarjo

Jumat, 12 Jun 2026 21:38 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 21:38 WIB

SIDOARJO, harianduta.id- Belum optimalnya koordinasi antara organisasi perangkat daerah (OPD)  terkait, pendamping sosial, perangkat desa, serta RT/RW dalam …

Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan, Kantongi Persetujuan Pemegang Saham

Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan, Kantongi Persetujuan Pemegang Saham

Jumat, 12 Jun 2026 18:21 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 18:21 WIB

SURABAYA | harianduta.id - PT Asia Pramulia Tbk (ASPR), perusahaan manufaktur kemasan plastik yang telah berdiri sejak tahun 1991 dan tercatat di Bursa Efek …

Korban Resah, Segera Tahan Terduga Pelaku Percobaan Pemerkosaan dan Penganiayaan

Korban Resah, Segera Tahan Terduga Pelaku Percobaan Pemerkosaan dan Penganiayaan

Jumat, 12 Jun 2026 18:12 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 18:12 WIB

LAMONGAN | harianduta.id – Penanganan kasus dugaan percobaan pemerkosaan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan berinisial WJ (26), warga Dusun Gajah, K…

Melanda Kediri Raya, BPBD Kota Kediri : Waspada  ISPA

Melanda Kediri Raya, BPBD Kota Kediri : Waspada  ISPA

Jumat, 12 Jun 2026 18:09 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 18:09 WIB

KEDIRI|harianduta.id-Masyarakat Kota Kediri belakangan ini merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari.…

Pemilik Toko Diajak Tolak Rokok Ilegal dan Jaga Iklim Usaha Sehat

Pemilik Toko Diajak Tolak Rokok Ilegal dan Jaga Iklim Usaha Sehat

Jumat, 12 Jun 2026 18:06 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 18:06 WIB

KEDIRI|harianduta.id-Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati membuka Sosialisasi Ketentuan Bidang Cukai Tahun 2026. Acara berlangsung di Hotel Merdeka, Kamis…

Sinergi Pemkot Kediri dan BNN Gelar AksiCegah Narkoba

Sinergi Pemkot Kediri dan BNN Gelar AksiCegah Narkoba

Jumat, 12 Jun 2026 17:44 WIB

Jumat, 12 Jun 2026 17:44 WIB

KEDIRI|harianduta.id-Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan  bersinergi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyelenggarakan kegiatan Komitmen Aksi …