SURABAYA | harianduta.id - Setiap tahun, warga Kelurahan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya, menjalankan tradisi turun-temurun yang telah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun, yakni Perayaan 1 Suro dengan Sholawat Keliling. Tradisi ini menjadi wujud ikhtiar spiritual sekaligus pelestarian kearifan lokal yang dikenal sebagai Kampung Santri.
Ir. H Wahyu Herdyanto Ketua Panitia 1 Suro Kelurahan Sidosermo mengatakan perayaan ini kegiatan setiap tahun yang menjadi budaya dari masyarakat Sidosermo. Pertama sholawat keliling yang diikuti 7 RW, dimana mereka akan keliling bersholawat dan takbir. Kedua bersedekah kepada anak yatim.
“Dengan sedekah kita harapkan bisa mendapatkan keberkahan dari Allah masyarakat Sidosermo dari segala balak, penyakit serta keberkahan dalam hidup. Selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemuka masyarakat tokoh agama tokoh masyarakat dan juga seluruh warga yang partisipasi dan mensukseskan 1 Muharram 1448 Hijriyah.”
Ir. H Wahyu Herdyanto menambahkan kegiatan ini menjadikan tradisi positif yang bagus bagi seluruh warga Indonesia dan juga warga Kota Surabaya kususnya warga Sidosermo. Antusiasme masyarakat cukup tinggi, semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Kami berharap serangkaian acara ini dapat menjaga kelestarian adat istiadat warisan leluhur Sidosermo. Lebih dari itu, tradisi ini menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda Kelurahan Sidosermo yang juga dikenal sebagai Kampung Santri,” ujar Ir H Wahyu Herdyanto selaku Ketua Panitia 1 Suro Kelurahan Sidosermo.
Sementara Muhaimin, salah satu legislatif DPRD Kota Surabaya mewakili warga masyarakat sekaligus mewakili Pemerintah Kota Surabaya sangat mendukung kegiatan reguler 1 Muharram ini. Banyak peristiwa besar yang dialami para nabi dan terjadi di bulan Muharram.
“Kegiatan turun menurun yang diisi dengan dengan dzikir membaca Sholawat, Tahmid, Tahlil dan berdoa agar diberi keselamatan dan keberkahan oleh Allah,” jelas Muhaimin.
Dari segi sosial budaya, tradisi Sholawat Keliling 1 Suro ini diyakini menjadi satu-satunya di Indonesia. Karena itu, menjadi kewajiban generasi penerus untuk terus melestarikannya agar berkelanjutan.
Sejarah Tradisi: Dari Pagebluk Hingga G30S/PKI
Pada sekitar tahun 1940-an, Desa Sidosermo yang kala itu bernama _Ndresmo_ dilanda wabah penyakit atau _pagebluk_ yang sangat dahsyat. Konon, warga yang sakit pagi hari meninggal saat sore, dan yang sakit sore hari meninggal keesokan paginya. Kondisi mencekam ini mendorong para Kyai dan Ulama sesepuh Ndresmo bermunajat serta beristikharah memohon petunjuk Allah SWT.
Ikhtiar spiritual kemudian dilakukan dengan membaca sholawat mengelilingi desa. Atas kuasa Allah SWT, Desa Ndresmo kembali normal. Momentum inilah yang menjadi landasan diselenggarakannya Sholawat Keliling hingga kini.
Pembacaan Sholawat Keliling juga terbukti menjadi pelindung spiritual saat peristiwa pemberontakan G30S/PKI. Pada masa itu, para Ulama dan Kyai di Sidosermo berhasil selamat dari ancaman penistaan yang dilakukan oleh PKI.
Pergeseran Waktu & Rangkaian Acara
Awalnya tradisi ini digelar selama tujuh hari tujuh malam dengan melibatkan seluruh warga, dari anak-anak hingga sesepuh. Pembacaan Sholawat Keliling semula dilaksanakan setiap 10 Muharram, kemudian bergeser ke 1 Muharram bertepatan dengan momentum hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Saat ini, rangkaian perayaan 1 Suro di Sidosermo tidak hanya Sholawat Keliling. Panitia juga menggelar Khotmil Quran di seluruh masjid dan mushola se-Kelurahan Sidosermo serta berbagai kegiatan keagamaan dan sosial budaya lainnya. Imm
Editor : Imam Ghozali