Piagam Jakarta Jadi Pesan Gus Lilur untuk Muktamar NU

author Abd Aziz

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYA I harianduta.id - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy mendorong peserta Muktamar NU ke-35 menjadikan forum tertinggi organisasi itu sebagai momentum pemurnian, bukan arena perebutan kekuasaan. Kiai kampung asal Situbondo, Jawa Timur ini memandang, pilihan pemimpin di muktamar kali ini akan menentukan posisi NU sebagai penjaga keutuhan republik, bukan mesin mobilisasi massa.

Gus Lilur, sapaan karibnya, merujuk pada Muktamar ke-34 yang berlangsung di Lampung pada Desember 2021 sebagai peringatan nyata. Proses pemilihan yang sarat kepentingan di muktamar itu berujung pada perpecahan internal, konflik kepengurusan yang merembet ke ranah hukum, korupsi, dan terseretnya NU dalam pusaran politik praktis. 

"Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi jadi terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa," ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Ia menilai Muktamar ke-35 tidak bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan yang lebih luas.  Di tengah kondisi geopolitik global yang bergolak dan kerentanan kohesi sosial dalam negeri, NU sebagai organisasi dengan lebih dari seratus juta warga memikul tanggung jawab moral yang besar. 

"NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan: apa artinya bagi keutuhan bangsa?" katanya.

Gus Lilur menganalogikan semangat yang harus dibawa ke Muktamar ke-35 dengan peristiwa Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945. Saat itu, para pemimpin Islam merelakan tujuh kata, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" demi mencegah disintegrasi bangsa yang baru merdeka. Baginya, keputusan itu bukan tanda kekalahan, melainkan puncak kenegarawanan. 

"Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam: memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar," ujar Gus Lilur.

Sebagai bentuk konkret dari semangat itu, Gus Lilur menegaskan bahwa pemimpin NU yang terpilih di Muktamar ke-35 harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode. 

 

Ia menilai pemerintahan Prabowo–Gibran merupakan kekuatan penyatu dari dua arus besar yang selama ini berpotensi menjadi sumber perpecahan. "Kita sudah melihat jejaknya: polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu," kata Gus Lilur.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Gus Lilur secara terbuka mendukung Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar untuk menjadi Ketua Umum PBNU, dan mendorong Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj untuk mengisi posisi Rais Aam. 

Nasaruddin Umar saat ini menjabat sebagai Menteri Agama dalam kabinet Prabowo, imam besar Masjid Istiqlal, sekaligus guru besar yang dikenal di forum-forum dialog antaragama internasional. Said Aqil Siradj adalah ulama senior dengan rekam jejak panjang di PBNU dan keilmuan yang berakar dari Universitas Ummul Qura, Makkah.

"Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik," ujar Gus Lilur. 

Ia juga mengkritik fenomena yang ia sebut "gus-gus nanggung" figur yang memanfaatkan simbol kesantrian sebagai legitimasi tanpa kedalaman keilmuan yang memadai, dan menggunakan NU sebagai batu loncatan karier politik.

Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini adalah ujian sejarah, bukan sekadar suksesi rutin. Ia berharap para kiai dan ulama peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memilih berdasarkan kapasitas keulamaan, bukan kalkulasi kekuasaan. 

"Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan — itu yang sedang dipertaruhkan," tandasnya.

Berita Terbaru

Totalitas Akting Nirina Zubir dalam Film Jangan Buang Ibu

Totalitas Akting Nirina Zubir dalam Film Jangan Buang Ibu

Kamis, 18 Jun 2026 23:00 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 23:00 WIB

SURABAYA | harianduta.id - Totalitas Nirina Zubir dalam film Jangan Buang Ibu harus diakui. Bagaimana tidak, Nirina Zubir harus memerankan tiga sosok yang…

Dukung Inklusi Asuransi dengan Perlindungan Terjangkau Mulai Rp1.000

Dukung Inklusi Asuransi dengan Perlindungan Terjangkau Mulai Rp1.000

Kamis, 18 Jun 2026 19:44 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 19:44 WIB

SURABAYA | harianduta.id - PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) terus memperluas akses masyarakat terhadap perlindungan asuransi melalui inovasi…

Saatnya Korporasi Konvensional Melirik Sukuk

Saatnya Korporasi Konvensional Melirik Sukuk

Kamis, 18 Jun 2026 13:20 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 13:20 WIB

KETIKA perusahaan membutuhkan pendanaan, pilihan yang biasanya muncul adalah pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, atau penawaran saham.…

Bank Jatim Perkuat Pemberdayaan PMI

Bank Jatim Perkuat Pemberdayaan PMI

Kamis, 18 Jun 2026 13:03 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 13:03 WIB

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung program pemerintah.…

Jelang Muktamar, NBI Sodorkan Susunan Ideal PBNU 

Jelang Muktamar, NBI Sodorkan Susunan Ideal PBNU 

Kamis, 18 Jun 2026 13:00 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 13:00 WIB

JAKARTA I harianduta.id – Menjelang muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan dilaksanakan beberapa waktu lagi, wacana mengenai arah kepemimpinan o…

Bupati Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga

Bupati Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga

Kamis, 18 Jun 2026 11:23 WIB

Kamis, 18 Jun 2026 11:23 WIB

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan siap mendorong optimalisasi pemanfaatan limbah rumah tangga untuk pertanian produktif berkelanjutan.  …