80 Tahun BNI Memberdayakan Ekonomi Rakyat

Cerita Titin Agen46 BNI Bisa Kuliahkan Anak dan Berangkat Haji Bersama Suami

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
SIAP MELAYANI : Katini, Agen 46 BNI di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Jember sedang melayani permintaan transfer warga yang datang ke toko sekaligus agen yang dikelolanya. (imam/duta)
SIAP MELAYANI : Katini, Agen 46 BNI di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Jember sedang melayani permintaan transfer warga yang datang ke toko sekaligus agen yang dikelolanya. (imam/duta)

i

SURABAYA | harianduta.id - Sosok Katini (54) adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tinggal di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMA. Tidak sempat melanjutkan kuliah S1 karena sebab tiadanya biaya. Kehidupan desa menjadikannya pola hidup yang sederhana seperti sebagian besar masyarakat desa.

Setelah lulus SMA tidak lama langsung menikah dan menjalani kehidupan bersama suaminya dan dikaruniai dua orang anak. Perjalanan hidupnya tidak berjalan mulus, meski suaminya seorang pegawai di Puskesmas Cakru, Titin panggilan akrabnya harus pindah sampai lima kali meski masih di sekitaran Kecamatan Umbulsari, Kencong dan Cakru, sekitar 7 km dari rumah asli keluarga besarnya.

Sampai akhirnya mantap membeli sebidang tanah ukuran 5x15 m di perempatan menuju Desa Sukoreno sekitar 30 tahun lalu. Tanah yang sebelumnya punya ibunya, akhirnya dibelinya dengan harga rasa saudara iba dengan kondisinya yang sering pindah lokasi dan belum punya tempat tinggal tetap yang dimilikinya.

Setelah membeli tanah, dibangunkan rumah dengan konsep gabungan rumah dan tempat usaha. Tujuannya bisa dijadikan tempat jualan kecil-kecilan membantu pendapatan usaha suaminya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Toko pracangan atau toko kelontong yang dikelola pelan namun pasti terus berkembang dengan modal terbatas yang dimilikinya.

“Tidak langsung besar seperti sekarang. Awal buka, barangnya sedikit, ya karena modal terbatas. Yang penting ada pemasukan buat tambahan guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dagangan yang banyak dibutuhkan masyarakat seperti beras, gula dan aneka snack,” kata Titin menceritakan perjalanan toko sembako yang dikelolanya.

Beranikan diri Buka dan Jadi Agen46 BNI 

Setelah lebih 20 tahun mengelola toko sembako, pelan namun pasti mulai ramai pembeli dengan stok barang yang cukup lengkap. Titin melihat potensi makin banyaknya kebutuhan transaksi perbankan, selain waktu itu BNI masih menjadi bank pembayar bansos PKH dan BPNT akhirnya mmeberikan diri menjadi Agen46 BNI awal tahun 2020.

Desa Sukoreno berada sekitar 35 km dari pusat kota Jember, 5 km dari Kota Kecamatan yang terdekat yakni Kecamatan Kencong, Tanggul dan Umbulsari. Sama halnya tipikal desa di daerah pinggiran Jawa Timur pada umumnya, tidak ada ATM eksisting yang ada melainkan ATM bersama yang ada di gerai minimarket.

Tanah di desa Sukoreno sangat subur dan sistem pengairan irigasi cukup bagus sehingga pertanian juga bagus seperti padi, jagung, palawija, tebu dan jeruk. Kebun jeruk inilah yang di rasakan masyarakat desa Sukoreno ( dan sekitarnya ) mampu mengangkat taraf kehidupannya. Selain bertani dan berkebun, sebagaian masyarakat Sukoreno bermata pencaharian berdagang / wiraswasta.

Dari gambaran demograsi desa Sukoreno bisa dikatakan desa yang berkembang dengan aktivitas transaksi perdagangan, perbankan dan lukuiditas yang cukup tinggi. Dan Titin salah satu dari tiga agen 46 BNI yang ada di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jatim.  Peran Titin sangat penting sebagai ujung tombak inklusi sekaligus literasi keuangan warga Desa Sukoreno.

Titin sibuk mondar mandir melayani pembeli aneka produk sembako dan jajanan di toko kecilnya yang dikonsep ala minimarket juga melayani orang yang mau transfer, chek saldo dan mengambil tunai. Dengan lokasinya yang sangat strategis di perempatan menuju desa Sukoreno, toko sembako milik Katini yang biasa dipanggil Titin cukup ramai.

“Semua kebutuhan transaksi harus siap, bisa dan cepat. Sangat terbantu dengan layanan BNI Agen46 yang lengkap. Mulai transfer (antara BNI dan online antar Bank), Pembelian top up pulsa dan paket data. Beli token listrik dan pembayaran pasca bayar,  bayar tagihan PDAM, bayar tagihan kartu kredit, bayar tagihan telepon, bayar cicilan multifinance. Tidak hanya itu, juga bisa bayar BPJS kesehatan, BPJS ketenagakerjaan, berbagai jenis asuransi, pembayaran tiket kereta dan pesawat,” jelas Titin.

Titin menjelaskan tidak semua warga desa Sukoreno yang datang ke Agen46 yang dikelolanya melek finansial, dalam artian tahu bagaimana proses stransfer, menerima dana, chek saldo di rekening dan aktivitas perbankan lainnya. Bahkan tidak sedikit diantara warga yang datang ke Agen46 tidak mengerti baca tulis, sehingga menghadapi mereka kuncinya sabar dan telaten menjelaskan satu-satu prosesnya transaksi perbankan termasuk biaya yang harus ditanggung dalam transaksi tersebut.

“Jutru disinilah tantangan sebenarnya, bagaimana sebagai Agen46 menjelaskan kepada warga yang datang melakukan transaksi dengan bahasa sederhana yang dimengerti. Apalagi menghadapi para penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Program Sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) saat BNI masih menjadi bank penyalur bantuan. “

Diakui Titin macam-macam pertanyaan yang harus dijawab. Layaknya seorang pegawai bank, dianggapnya bisa menjawab yang berkaitan dengan transaksi perbankan. Apalagi kalau bantuan sudah cair, dirinya harus siap menjelaskan dan menerima komplain kalau dana salah satu Penerima Manfaat (PM) belum masuk karena sesuatu sebab.

Di Kabupaten Jember tahun 2020-2021, BNI yang menjadi bagian dari Bank Himbara  ditunjuk menjadi bank penyalur bansos PKH dan BPNT. Data di Kecamatan Umbulsari, penerima PKH dan BPNT sekitar 10 ribu orang, di Desa Sukoreno sendiri sekitar 2000 an lebih.

Buka Agen46 BNI untuk Bantu Warga Unbankable

Covid-19 menjadi berkah tersendiri bagi Titin, yang sebelumnya sudah membuka toko pracangan skala kecil di pojokan jalan utama Desa Sukoreno, memberanikan diri mengajukan sebagai Agen46. Keberanian Titin mengajukan diri dengan membuka Agen46 didasarkan pada peluang yang terbuka luas, dimana saat itu BNI ditunjuk sebagai bank pelaksana pembayaran bantuan sosial PKH dan BPNT. 
“Wes pokoknya nekat, pemahaman soal transaksi perbankan juga minim. Dalam pikiran saya pasti nanti akan diksih penjelasan bagaimana teknis dan cara menjadi Agen46, melayani orang yang datang dan sejenisnya.” Jelas Titin.

Benar saja para calon Agen46 dikumpulkan dan diksih penjelasan tentang apa dan bagaimana Agen46, termauk menggunakan EDC (Elektronic Data Capture) yang selama ini tidak pernah dilihat dan dikenalnya. Namun semua penjelasan dilakukan dengan detil sehingga calon Agen46 termasuk dirinya bisa memahami dan menjalankan sebagaimana fungsinya EDC sebagai alat transaksi pembayaran.

“Gagap pasti, apalagi selam ini tidak banyak mengenal teknologi. Namun seiring berjalannya waktu, semuanya bisa diatasi sembari memberi penjelasan kepada warga yang datang sekaligus belajar.”

Titin mengakui setelah menjadi Agen46, toko yang dikelola perlahan namun pasti berkembang, juga transaksi harian dari warga yang mencairkan dananya dari bansos yang diterimanya. Di Desa Sukoreno sendiri ada sekitar 2000 an warga yang mendapatkan PKH dan BPNT, namun tidak sedikit juga yang datang dari desa sekitar yang kebetulan lewat dan mencairkan.

“Setiap transaksi, baik tarik tunai, transfer ataupun chek saldo, biaya yang dikenakan variasi mulai Rp 2.500 bergantung jumlah nominal. Hanya saja untuk nominal skala besar, biayanya flexibel tidak baku per Rp 1 juta kena fee Rp 5000. Tidak tega kalau dibuat kaku, karena jatuhnya akan besar nilai fee yang dikenakan,” tegas Titin.

Titin menceritakan ada warga yang ingin ambil tunai Rp 40 juta, kusaran ambil di teller bank saja karena tidak kena biaya. Namu tetap ngotot dengan alasan tidak biasa transaksi di bank selain jaraknya juga lumayan jauh, akhirnya tetap dilayani dengen kesepakatan fee kisaran Rp 150 dan mau.

“Padahal kalau dihitung normalnya per Rp 1 juta fee Rp 5000. Keunikan seperti itulah yang menjadi seni dan tantangan bagi Agen46 di lapangan. Justru dari berbagai kasus yang unik, bisa belajar bagaimana melayani kebutuhan warga yang beraneka ragam tingkat literasi keuangannya.”

Siap Dana Tunai, Padukan EDC dan Mobil Banking

Enam tahun sudah Titin menjadi Agen46 dengan suka dukanya. Titin mengaku banyak sukanya karena tujuan dari menjadi Agen46 membantu warga yang membutuhkan layanan seperti perbankan, tidak perlu jauh ke Kencong, Umbulsari ataupun ke Tanggul.

Dalam keterangan resminya BNI, BNI Agen46 (perorangan atau badan hukum yang telah bekerjasama dengan BNI) untuk menyediakan layanan Perbankan kepada masyarakat (layanan Laku Pandai, layanan LKD dan layanan e-Payment).

Dengan  prinsip ingin membantu warga itulah Titin dengan senang hati melayani warga yang datang ke tokonya untuk semua layanan transaksi perbankan bisa dilakukan. Untuk itu, Titin memadukan penggunaan EDC dan mobile banking BNI. Dengan dua cara itulah, hampir semua kebutuhan layanan perbankan warga yang datang ke tokonya bisa diselesaikan.

“Mau ambil tunai, transfer, bayar apapun bisa bahkan top up e wallet juga bisa. Untuk transaksi perbankan menggunakan EDC dan kalau transaksi besar menggunakan mobile banking BNI, tergantung kebutuhan. Palugada lah, semua layanan perbankan yang dibutuhkan siap dan bisa,” tegas Titin.

Untuk memenuhi kebutuhan transaksi harian, Titin mengaku menyiapkan dana tunai Rp 10-Rp 30 juta. Dana diambil dari cadangan, serta ambil di tiga ATM yang dimiliki. Penyediaan dana tunai sebesar itu antisipasi kebutuhan transaksi harian yang diperlukan. Meski transaksi harian tidak bisa diprediksi, kecuali saat bansos sudah mulai cair, dipastikan transaksi harian bisa lebih dari Rp 30 juta.

“Meski tokonya tidak besar, yang penting Agen46 bisa memberikan layanan sesuai yang dibutuhkan. Adanya mobil banking BNI yang kini berubah menjadi Wonder sangat membantu sekali. Pasalnya mesin EDC yang ada seringkali bermasalah, kadang tidak bisa dipakai. Meski sudah dikomplain, responnya lambat dan solusinya ya menggunakan mobile banking. Meski awalnya kagok karena tidak banyak ngerti teknologi, ternyata menggunakan mobile banking BNI juga mudah dan bisa. ”

Titin memberi masukan kepada BNI perlunya chek dan kontrol piranti EDC yang ada di Agen46 secara reguler. Sehingga kalau ada alat yang rusak, tidak perlu di komplain lama langsung bisa diantisipasi, diperbaiki atau diganti yang baru kalau dirasa perlu.

“Mesin EDC ini sudah semingggu tidak bisa dipakai. Sudah dikomplain juga belum ada perbaikan. Untungnya mobile banking BNI lancar tidak  ada masalah sehingga tidak mempengaruhi transaksi harian Agen46 yang dikelolanya.”

Masukan lain jelas Titin untuk BNI kususnya Agen 46 sebaiknya transaksi sesama BNI tidak dikenakan biaya, beda dengan antar bank kalau ada biaya normal. Menggunakan EDC BNI untuk transaksi ke rekening BNI dikenakan biaya Rp 6500, sementara untuk biaya antar bank dikenakan Rp 10 ribu.

Berkah Jadi Agen46 Ekonomi Stabil, Bisa Kuliahkan Anak dan Naik Haji  

Sejak 2020 sampai sekarang Titin konsisten menjadi Agen 46 BNI meski Bank BNI kini tidak lagi menjadi bank pembayar bansos PKH dan BPNT di Kabupaten Jember, sementara di Kabupaten Lumajang masih menggunakan BNI. Bagi Titin, tidak menjadi masalah karena transaksi perbankan yang dikembangkan tidak hanya menerima pencairan bansos PKH dan BPNT.

“Meski kini BNI tidak menjadi bank resmi pembayaran bansos PKH dan BPNT, tidak sedikit juga yang mengambil dana di Agen46. Mereka kan mendapatkan buku tabungan  dan ATM, bisa ambil di Agen46, BrilLink dan ATM Mandiri. Dan Agen46 yang dikelolanya tidak surut transaksinya, malah sebaliknya.”

Juni (65), salah satu penerima bantuan PKH dan BPNT mengaku sangat terbantu adanya Agen46 di Desa Sukoreno. Dengan pendidikan tidak lulus SD, Juni, Tumpi dan Elok dan beberapa orang di Krajan Kidul Sukoreno tinggal datang ke Agen46 untuk mencairkan dana bantuan yang sudah masuk di rekening.

“Tidak perlu repot datang ke ATM ataupun Bank BNI yang jaraknya lumayan jauh untuk mengambil uang, tinggal ke Agen46 yang jaraknya tidak sampai 1 km. Tinggal tunjukkan kartu ATM dan bukui rekening, nanti di chek apakah dana sudah masuk, kalau sudah akan dicairkan sesuai kebutuhan.”

Tidak jauh beda dengan Juni, Tumpi (70), janda tiga putra anak ini mengaku sangat bersyukur mendapatkan bantuan PKH dan BPNT. Meski Tumpi tidak bisa baca tulis, saat membuka tabungan BNI ataupun Bank Mandiri, tidak masalah karena semaunya dipandu pihak bank prosesnya.

“Untuk ambil mudah juga tingal tunjukkan buku rekening dan ATM kepada Agen46, dichek dan kalau sudah ada dana masuk bantuannya bisa diambil sesuai kebutuhan. Gak perlu adoh-adoh (tidak perlu jauh-jauh), cukup jalan bisa ambil uang.” Ujar Tumpi.

Titin mengakui hasil dari menjadi Agen 46 sangat terasa bagi perekonomian keluarganya. Dagangan toko sembakonya makin laris dan jangkep karena ketika warga datang untuk trasaksi keuangan seperti transfer, ambuil tunai ataupun membayar berbagai cicilan, tidak jarang belanja.

“Allhamdulillah ekonomi keluarga makin lancar dengan perolehan dari Agen dan jualan aneka sembako. Dua anak saya sudah kuliah, satu sudah lulus dan satu masih mau skripsi. Tidak hanya itu, insyallah tahun 2027 waiting list haji untuk menunaikan ibadah haji. Pastinya senang sekali, kebutuhan rumah tangga terpenuhi, kebutuhan biaya pendidikan cukup dan bonus bisa ibadah haji.” Tegas Titin.

Titin menambahkan saat anak pertamanya bilang kalau bisa mendapatkan beasiswa anak tidak mampu dengan tegas Titin mengatakan bahwa tidak perlu. Karena untuk mendapatkan beasiswa itu harus mengurus surat SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) di balai Desa.

“Saya bilang cukup tidak perlu mendapatkan surat SKTM karena sudah dimampukan dengan hasil usaha menjadi Agen 46 dan jualan sembako. Untuk persiapan ibadah haji tahun 2027 nanti pun sudah dipersiapkan dengan simpanan tabungan per bulan dalam bentuk cicilan emas. Tinggal di desa bukan halangan untuk belajar dan mengembangkan diri,” pungkas Titin.

BNI Pacu Kemandirian Ekonomi Rakyat dengan KUR

Selain penetrasi inkulasi keuangan sampai apelosok lewat Agen46, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang masuk pada usia 80 tahun konsisten membersamai kebangkitan dan kemandirian ekonomi rakyat lewat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). BNI mencatat realisasi penyaluran (KUR) sebesar Rp1,7 triliun hingga Februari 2026. Penyaluran tersebut telah menjangkau 7.607 debitur dan didominasi oleh sektor perdagangan.

Direktur Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan, capaian tersebut masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan perseroan. “Secara alokasi proporsional hingga Februari 2026 telah mencapai 104%,” ujarnya seperti dilansir kontan.co.id.

Dari sisi kualitas kredit, BNI memastikan portofolio KUR tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) KUR tercatat sebesar 2,70% hingga Februari 2026. Kinerja ini didorong oleh penguatan pengelolaan manajemen risiko.

“Ke depan, BNI menargetkan rasio NPL KUR tetap berada di bawah level tersebut guna menjaga kualitas pembiayaan.”

Adapun sektor yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk penyaluran KUR sepanjang tahun ini meliputi sektor produktif seperti perdagangan, pertanian, industri, dan jasa. Selain itu, BNI juga fokus mendukung sektor prioritas pemerintah, khususnya ketahanan pangan.

Untuk mempercepat penyerapan sekaligus menjaga kualitas kredit, BNI mengandalkan strategi yang selaras dengan program pemerintah dalam penguatan ekonomi kerakyatan. BNI juga terus memperkuat proses penyaluran KUR melalui digitalisasi guna meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam penilaian kelayakan debitur UMKM.

Muhammad Iqbal mengatakan perencanaan pengajuan yang matang dinilai penting agar arus kas usaha tetap sehat. Melalui KUR 2026, pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis tanpa harus menyediakan agunan tambahan untuk plafon tertentu. Prosesnya dirancang lebih cepat dan efisien.

Pemerintah menetapkan bunga KUR 2026 sebesar 6 persen per tahun atau setara 0,5 persen per bulan. Plafon pinjaman disesuaikan dengan skala dan kebutuhan usaha. Untuk pinjaman hingga Rp100 juta, KUR BNI tetap menjadi salah satu opsi paling diminati karena cicilan relatif terjangkau.

“Untuk pinjaman di atas Rp50 juta, pemohon wajib memiliki NPWP. Sementara pengajuan kredit di atas Rp100 juta memerlukan dokumen agunan. BNI juga mensyaratkan calon debitur tidak sedang menerima kredit produktif lain di luar program KUR. Namun, pemilik KPR, KKB produktif, atau kartu kredit yang lancar tetap dapat mengajukan.” Imam ghozali

 

 

  

 

Berita Terbaru

282 Juta Jiwa Penduduk Indonesia jadi Peserta JKN

282 Juta Jiwa Penduduk Indonesia jadi Peserta JKN

Jumat, 03 Jul 2026 15:17 WIB

Jumat, 03 Jul 2026 15:17 WIB

Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai 282,7 juta jiwa. …

ETF Emas Segera Hadir di Pasar Modal Indonesia

ETF Emas Segera Hadir di Pasar Modal Indonesia

Jumat, 03 Jul 2026 15:04 WIB

Jumat, 03 Jul 2026 15:04 WIB

Pasar modal Indonesia akan memasuki era baru investasi berbasis emas dengan kehadiran Exchange-Traded Fund {ETF). …

KAI Daop 7 Madiun Tutup Perlintasan Sebidang Liar di Kabupaten Blitar

KAI Daop 7 Madiun Tutup Perlintasan Sebidang Liar di Kabupaten Blitar

Jumat, 03 Jul 2026 12:38 WIB

Jumat, 03 Jul 2026 12:38 WIB

KEDIRI|harianduta.id- PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun kembali melakukan penutupan perlintasan sebidang tidak terdaftar (liar) sebagai…

BRI Sukses Gelar BRImo Campus Ambassador Surabaya 2026

BRI Sukses Gelar BRImo Campus Ambassador Surabaya 2026

Jumat, 03 Jul 2026 10:24 WIB

Jumat, 03 Jul 2026 10:24 WIB

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Region 12 Surabaya sukses menyelenggarakan puncak pemilihan BRImo Campus Ambassador Surabaya 2026.…

Gelar Pelatihan Guru Tingkatkan Standar Pembelajaran Al-Quran

Gelar Pelatihan Guru Tingkatkan Standar Pembelajaran Al-Quran

Kamis, 02 Jul 2026 21:01 WIB

Kamis, 02 Jul 2026 21:01 WIB

SURABAYA | harianduta.id - Lembaga Pendidikan Al-Quran (LPQ) Metode Al Fatih menyelenggarakan pelatihan bagi para guru Al-Quran sebagai bagian dari upaya…

Seleksi PPG Calon Guru 2026 Resmi Dibuka

Seleksi PPG Calon Guru 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 02 Jul 2026 20:15 WIB

Kamis, 02 Jul 2026 20:15 WIB

Kemendikdasmen resmi membuka Seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi Calon Guru Tahun 2026.…