SURABAYA | harianduta.id – Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita yang masih jauh, melainkan masa depan yang mulai dibangun sejak sekarang.
Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat menjadi keynote speaker di pengukuhan mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (7/9/2026).
Baca juga: 50 Kader Kesehatan RW 04 Wonokromo Ikuti Pelatihan Model Continuity of Care
Mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi pada 2026, kata Emil, akan berada pada usia sekitar 37–38 tahun ketika Indonesia memasuki momentum 2045.
Saat itu mereka diharapkan telah menjadi profesional, inovator, maupun pemimpin yang ikut menentukan arah bangsa.
Dalam kuliah bertema “Naik Level, Menjadi Generasi Pembelajar, Penggerak, dan Pemberi Dampak Menuju Indonesia Emas 2045”, Emil mengajak mahasiswa tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi membangun kapasitas diri agar mampu menghadapi perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat.
Menurut Emil, perkembangan artificial intelligence (AI), otomasi, transformasi digital, perubahan ekonomi, dinamika sosial, hingga persoalan iklim, energi, pangan, dan kesehatan akan mengubah dunia kerja.
Mengutip World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, ia menyampaikan bahwa sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan mengalami disrupsi hingga 2030, sementara sekitar 39 persen keterampilan pekerja diproyeksikan berubah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelar akademik tetap penting, tetapi kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi akan semakin menentukan perjalanan seseorang.
Emil juga mengingatkan bahwa masa depan pekerjaan tidak semata-mata milik sektor teknologi. Pekerjaan di bidang big data, fintech, AI dan machine learning, pengembangan perangkat lunak, serta keamanan memang diproyeksikan tumbuh cepat.
Baca juga: Unusa Jalin Kemitraan Strategis dengan Kampus Informatika Jepang
Namun, pekerjaan seperti pertanian, pengemudi, konstruksi, dan penjualan juga tetap memiliki prospek pertumbuhan besar. Karena itu, mahasiswa perlu memadukan literasi teknologi dengan kekuatan manusia, seperti kemampuan berpikir kreatif, ketangguhan, fleksibilitas, kemampuan berkolaborasi, kepemimpinan, dan kemauan untuk terus belajar.
Dalam konteks tersebut, Emil memaknai “naik level” bukan sekadar naik semester, melainkan bertumbuh sebagai manusia. Pertumbuhan mahasiswa harus dibangun melalui tiga unsur, yakni capacity, character, dan contribution.
Kapasitas membuat seseorang memiliki pengetahuan dan keterampilan, karakter memberikan integritas, disiplin, empati dan tanggung jawab, sedangkan kontribusi mengubah ilmu yang dimiliki menjadi manfaat bagi masyarakat. Ia juga menekankan lima kekuatan mahasiswa masa depan, yaitu karakter, kompetensi, kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi.
Perhatian khusus juga diberikan Emil terhadap penggunaan AI dalam proses belajar. Ia mengajak mahasiswa menjadikan AI sebagai “copilot, bukan autopilot”.
AI dapat membantu mencari dan mengolah informasi, membangun ide awal, menganalisis data, melakukan simulasi, dan mempercepat proses belajar. Namun, proses berpikir kritis, kejujuran akademik, verifikasi informasi, empati, tanggung jawab, serta pengambilan keputusan tetap harus berada pada manusia. “Gunakan AI untuk memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran,” pesan Emil.
Baca juga: Perkuat Praktik PMBA Cegah Stunting dengan Pendekatan Family Centered Care
Lebih jauh, Emil mendorong mahasiswa membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas melalui pengalaman nyata. Proses belajar, menurutnya, harus berlangsung melalui tahapan learn, do, reflect, improve, dan share. Jawa Timur pun dapat menjadi living laboratory bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi.
Berbagai persoalan seperti kesehatan ibu, anak dan lansia, transformasi layanan kesehatan, ekonomi pesantren dan UMKM, lingkungan dan sampah, ketahanan pangan, literasi digital, serta pendidikan dan pemberdayaan komunitas dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkarya.
Menutup kuliah perdananya, Emil mengajak mahasiswa baru Unusa memulai kontribusi sejak hari pertama kuliah, tanpa harus menunggu menjadi sarjana. Mahasiswa didorong untuk belajar melampaui ruang kelas, menggunakan teknologi secara cerdas dan beretika, berkolaborasi melampaui perbedaan, serta menghasilkan setidaknya satu karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut dirangkum dalam empat ajakan: naikkan kapasitasmu, teguhkan karaktermu, perluas kolaborasimu, dan wujudkan kontribusimu. “Indonesia Emas 2045 tidak dimulai dua puluh tahun lagi, tetapi dimulai hari ini,” katanya.
Editor : Redaksi