SURABAYA | harianduta.id - Gen X generasi yang lahir 1965-1980 (sekarang berusia 40-55 tahun) dan Baby Boomer, generasi yang saat ini berusia 56-74 tahun (lahir 1946-1964) pasti mengenal dan akrab dengan merek National. Yang cukup melegenda pastinya Radio dan TV National Panasonic.
Di rumah sampai saat ini Radio National Panasonic masih ada dan bisa berfungsi padahal sudah lebih 50 tahun sejak pertama kali almarhum ayah membeli dengan harga yang terjangkau. Kalau tidak salah hanya puluhan ribu sudah bisa beli radio. Saat itu radio menjadi satu-satunya hiburan keluarga, mendengarkan lagu-lagu Nasida Ria, Rhoma Ira, Ida Laila, A Rafiq. Juga mendengarkan berita dari RRI yang menemani ayah dan ibu masak pagi hari.
Yang tidak kalah pentingnya Radio National Panasonic menjadi sangat penting untuk memutar Sandiwara Radio Saur Sepuh yang sangat fenomenal pada tahun 80-an. Satu radio didengarkan ramai-ramai lebih dari satu keluarga, bahkan sering mendengarkan di sanggar ataupun dibawah pohon rindang.
Sampai saat ini radio National Panasonic masih ada dan berfungsi meski sudah tidak sering diputar sejak 10 tahun lebih lalu karena sudah ada saluran TV dari berbagai chanel pilihan. Ditambah hadirnya ponsel yang kini menjadi pusat hiburan dan akses informasi. Sementara TV National Panasonic yang bentuk tabung wujudnya masih ada di gudang, sudah tidak bisa dipakai dan menjadi kenangan keluarga betapa merek National Panasonic berperan penting bagi perjalanan industri elektronik di Indonesia.
“Radio awet sekali dan masih bisa diputar sesekali sebagai teman kalau lagi pengen dengarkan lagu, ataupun berita. Masih menggunakan batrei, bukan yang pakai colokan listrik. Jadi kalau batrei habis sampai kelupaan.Kalau TV sudah tidak bisa diputar lagi, ada komponen yang tidak bisa diperbaiki,” kata Mudawarah (79), mama yang masih tinggal di desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Jawa Timur.
Ibu Mudawarah mengaku karena radio dan tv National Panasonic penuh kenangan, kedua barang tersebut tetap dipertahankan dan tidak dijual meski banyak yang menawar. Katanya untuk pajangan di sebuah Café yang mengusung konsep jadul ataupun dibuat koleksi barang elektronic lawas.
Yang menarik dipertanyakan apakah Merek National Panasonic mash bertahan sampai saat ini, ataukah sudah sudah kalah bersaing dengan hadirnya merek pendatang baru sepertihalnya merek terkenal lain yang mati perlahan. Ternyata National Panasonic sampai saat ini masih eksis di industri elektronik Indonesia bahkan melebarkan sayapnya ke banyak lini bisnisnya.
Penasaran penulis mencoba mendatangi toko elektronik terdekat di Kota Surabaya, masih ada TV dan piranti elektronik. Sampai saat ini Panasonic di Indonesia tetap merupakan brand elektronik terkemuka yang menyediakan produk inovatif untuk home appliances (AC, Smart TV, Kulkas, Mesin Cuci, Perangkat Audio, Rice Cooker, Microwave, Air Purifier hingga beragam alat penataan rambut dan perawatan kulit) dikalangan B2C dan system solution di kalangan B2B yang berorientasi pada pasar lokal untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.
Legacy Lokal Pride asli Indonesia yang Mendunia
Di Indonesia sendiri, Panasonic Gobel Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang dan melekat di hati rakyat. Dimulai dengan kehadiran radio 'tjawang' oleh Almarhum Drs. H. Thayeb Moh. Gobel pada tahun 1954, TV pertama di tahun 1962, serta hadirnya brand National di tahun 1970. Panasonic Gobel Indonesia juga merupakan pelopor pendorong perusahaan-perusahaan lokal pemasok komponen. Hingga pada tahun 2004 nama National berubah menjadi Panasonic.
Menurut Agustina Widyawati,S.Sos,.M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik legacy Gobel Group sangat kuat dan mengakar. Gobel Group identik dengan konglomerat Indonesia yang paling identik sama "TV & elektronik". Bagaimana tidak nama dagangnya PT Gobel International, didirikan 1957 oleh Thayeb Mohammad Gobel dan bisa bertahan sampai saat ini di tengah ketatnya persaingan bisnis elektronik dan masuknya produk asing ke Indonesia.
“Tidak mudah mempertahankan legacy sampai saat ini sudah 70 tahun, tidak hanya bertahan tapi bisa bersaing dengan transformasi yang dilakukan di industri elektronik Indonesia dan global,” kata Widya.
Lalu siapakah Gobel Group? Ternyata Gobel Group "Bapak Elektronik Indonesia" yang dibangun sejak 1954 oleh Thayeb Mohammad Gobel. Produk pertamanya yakni bikin PT Transistor Radio Manufacturing di Cawang, Jakarta dengan produk pertamanya radio merek "Tjawang".
Momentum Gobel Group naik dan menjadi produsen elektronik yang disegani dimulai tahun 1962. Dimana waktu Asian Games Jakarta, Gobel Group mendapatkan pesanan 10.000 unit TV dari pemerintah Indoensia agar rakyat bisa nonton dari rumah. Dan saat itu, TV produksi Gobel Group yang pertama buatan Indonesia. Sejak saat itu pula, Gobel Group selain produsen radio juga produksi TV yang cepat dikenal luas di masyarakat Indonesia.
“Gobel Group mendapatkan momentum yang pas, ditambah kualitas produk menjadi perpaduan yang jitu dalam peneterasi pasar. Produk Gobel Group diakui, karena sampai saat ini sudah puluhan tahun masih banyak radio yang bisa diputar,” jelas Widya.
Gebrakan Gobel Group tidak berhenti disini, karena guna memperluas pasar dalam dan luar negeri tahun 1970 melakukan kerja sama Matsushita Electric Jepang . Dari kerjasama itu lahir PT National Gobel. Sekarang menjadi PT Panasonic Manufacturing Indonesia yang menjadi pemegang lisensi + pabrik Panasonic paling besar di ASEAN.
“Sekarang lini bisnisnya tidak cuma TV, berbagai produk rElektronik seperti baterai Panasonic, properti, alat kesehatan, logistik, katering, klinik, bahan bangunan. Tokoh kuncinya sekarang Rachmat Gobel & Abdullah Tauhid Gobel, Gobel Group sukses transformasi menjadi perusahaan komplit. Dan disinilah kunci keberhasilan Gobel Group tetap bertahan, bersaing dan memenangkan persaingan.” Ujar Widya.
Transformasi Kunci Eksistensi Gobel Group
Mempertahankan sebuah bisnis selama satu dekade adalah pencapaian. Namun, menakhodai konglomerasi hingga bertahan selama 70 tahun melewati berbagai badai ekonomi, perubahan politik, dan disrupsi teknologi adalah sebuah mahakarya.
Perjalanan Gobel Group —yang berakar dari visi sang pendiri, Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel, hingga era modern bersama Panasonic—adalah cetak biru sempurna tentang bagaimana sebuah legacy (warisan) mampu bertransformasi menjadi future (masa depan).
Menurut analisa penulis kenapa Gobel Group bisa Bertahan 70 tahun mulai 1954 – 2026. Paling tidak ada 4 jurus Gobel Group yang bikin bertahan bahkan bersaing.
Jadi pelopor dan timing pas. Momen pas Gobel Group masuk produksi TV pas 1962 Asian Games. Dimana waktu itu Gobel Group mendapatkan pesanan puluhan ribu TV dari pemerintah untuk dibagikan. Waktu itu TV identik barang mewah dan mimpi sebagian besar orang Indonesia.
Karena tidak semua rumah punya TV, dan seringkali satu kampung hanya ada satu rumah yanag punya TV dan diputar dan dilihat bersama-sama layakanya layar tancap. Gobel Group yang pertama bikin TV dan secara otomatis keburu jadi "merek di kepala" orang Indonesia bahwa Panasonic Gobel identik dengan TV bagus dan berkualitas tinggi.
Rangkul Lawan Gandeng Pabrikan Jepang. Dalam proses pengembangan usaha, Gobel Group tidak egois dan melaju sendiri, justru yang dilakukan menggandeng lawan untuk sinergi. Pada tahun 1970 Gobel Group tidak keras kepala dengan bikin merek sendiri. Justru mengajak kerjasama Matsushita/Panasonic bikin pabrik bareng. Keuntungannya mendapkan teknologi dan merek dunia. Kerja sama ini berjalan 50+ tahun dan Gobel Group mendapatkan transfer teknologi untuk pengembangan produk ke depan.
Pabrik Sendiri, Kontrol Kualitas dan Harga. Dari awal Gobel Group bikin pabrik di Cawang tidak cuma jadi importir melainkan menjadi pemain. Pada tahun 1987 bikin pabrik baterai Panasonic. Dengan punya pabrik sendiri, bisa tekan harga, jaga kualitas, buka lapangan kerja. Buktinya waktu krisis 1998 banyak importir tumbang, Gobel Group masih ada pabriknya dan bertahan.
Diversifikasi tapi masih nyambung. Diversifikasi produk dilakukan melihat peluang pasar yang terbuka. Dari elektronik mengembangkan lini produk baru ke baterai, alat kesehatan, logistik yang semuanya masih berkaitan dengan arus listrik dan produksi rumah tangga. Jadi kalau penjualan TV sedang lesu, masih ketutup baterai/klinik dan tidak loncat ke bisnis yg aneh-aneh.
Mengubah fokus dari sekadar perangkat rumah tangga standar menjadi produk berbasis Internet of Things (IoT) dan teknologi ramah lingkungan. Kini, di bawah kepemimpinan generasi penerus seperti Rachmat Gobel, grup ini merambah sektor yang lebih luas, mulai dari logistik, properti, makanan, hingga solusi energi terbarukan (green energy).
Bonus Keluarga Gorontalo. Thayeb Gobel terkenal jujur tidak tidak ngutang. Filosofinya hidup secukupnya, kerja keras. Nilai ini diturunin ke anak-cucu yang diterapkan sampai saat ini. Jadi manajemennya konservatif, tidak nekat dengan ngembangin usaha tanpa utang gede. Gobel bertahan karena tidak cuma jualan barang, tapi "bangun industri".
From Legacy to Future bagi Gobel Group adalah kemampuan menjaga nilai-nilai luhur masa lalu (legacy) sambil tetap relevan, adaptif, dan inovatif dalam menyongsong tren global masa depan (future).
Melalui kombinasi antara falsafah lokal yang kuat, kemitraan global yang solid, dan komitmen tanpa batas pada pembangunan manusia, Gobel Group telah membuktikan bahwa usia 70 tahun bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan babak baru menuju masa depan yang lebih gemilang.
Hadirkan Ekosistem Agrominapolitan Terintegrasi
Salah satu terobosan dan inovasi Gobel Group yakni konsistensi melakukan transformasi. Kali ini melalui AGIT, KEK Gorontalo, dan berbagai investasi strategis sektor pangan, Gobel Group mendukung Visi Gorontalo 2051 yang menargetkan Gorontalo menjadi pusat agrominapolitan, logistik, dan industri pengolahan terdepan di Indonesia Timur.
Selama hampir 70 tahun, Gobel Group tumbuh bersama Indonesia dengan keyakinan bahwa kemajuan perusahaan harus memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk petani dan nelayan. Komitmen terhadap sektor pertanian telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan sejak generasi pendiri.
Pada tahun 1963, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, pendiri perusahaan, mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor) yang menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian, mulai dari traktor, pengering gabah, penyemprot hama, hingga mesin pengolah beras untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi hasil panen.
Semangat tersebut terus diwujudkan Gobel Group dengan berbagai pengembangan di Gorontalo melalui berbagai inisiatif strategis yang mendukung transformasi daerah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi pangan di Indonesia Timur. Sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan ketahanan pangan nasional, termasuk melalui pengembangan hilirisasi peternakan ayam, berbagai investasi terus dikembangkan untuk membangun rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari produksi, industri pengolahan, logistik, hingga akses pasar.
Komitmen tersebut turut ditampilkan melalui partisipasi Gobel Group dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 yang diselenggarakan di Gorontalo pada 20–25 Juni 2026. Mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional”, kegiatan ini menjadi forum kolaborasi bagi petani, nelayan, penyuluh, pelaku usaha, serta pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia.
Dalam ajang ini, Gobel Group menampilkan berbagai kontribusi yang telah dibangun di Gorontalo selama tiga generasi, mulai dari penguatan konektivitas logistik melalui pelabuhan internasional PT Anggrek Gorontalo Internasional Terminal (AGIT), pengembangan area industri berbasis hilirisasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gorontalo, perluasan akses pasar bagi hasil pertanian melalui kemitraan dengan Châteraisé yang menghubungkan hasil panen petani lokal dengan rantai pasok global melalui konsep farm-to-factory, hingga pemanfaatan teknologi Panasonic untuk mendukung produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.
Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group, menyampaikan bahwa partisipasi Gobel Group dalam PENAS XVII 2026 menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya petani, nelayan, dan masyarakat daerah.
“Bagi Gobel Group, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan. Pendekatan inilah yang selama beberapa dekade terus dikembangkan Gobel Group melalui berbagai inisiatif bisnis dan pembangunan daerah. Melalui kehadiran di PENAS XVII 2026, kami ingin menunjukkan bagaimana langkah-langkah tersebut terus dibangun, terutama di Gorontalo, sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pembangunan daerah dan ketahanan pangan nasional” ujar Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group
Berbagai inisiatif yang ditampilkan Gobel Group di PENAS XVII 2026 merupakan bagian dari visi jangka panjang pembangunan Gorontalo sebagai pusat agrominapolitan Indonesia Timur. Visi 2051 yang diinisiasi oleh Rachmat Gobel tersebut bertujuan untuk mendorong akselerasi pembangunan ekonomi daerah, pengembangan kota agrominapolitan, membuka akses investasi dan penciptaan lapangan kerja, penguatan infrastruktur dan konektivitas, serta mendorong pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sebagai Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel juga secara konsisten mendorong realisasi visi tersebut melalui berbagai inisiatif, mulai dari membuka akses investasi, menghubungkan program CSR lintas perusahaan untuk mendukung sektor pertanian, hingga memperkuat infrastruktur pertanian melalui berbagai skema pendanaan dan kolaborasi untuk Gorontalo.
KEK Gorontalo: Mendorong Hilirisasi dan Penciptaan Lapangan Kerja
Sebagai salah satu pilar utama dalam mewujudkan Visi Gorontalo 2051, KEK Gorontalo dirancang dengan konsep Agrominapolitan Hijau dan Halal untuk mendorong industrialisasi berbasis sumber daya lokal, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur.
Melalui pengembangan industri pengolahan di dalam kawasan, berbagai komoditas unggulan di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan, seperti jagung, kakao, kelapa, serta sapi diharapkan tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Sebagai contoh, kelapa yang selama ini dipasarkan sebagai komoditas primer dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti santan beku, minyak kelapa, margarin, cocofiber, hingga briket karbon aktif. Sementara itu, jagung dapat dikembangkan menjadi pakan ternak, tepung jagung, sirup glukosa, maupun bioetanol. Pendekatan hilirisasi ini mendorong terciptanya ekonomi sirkular yang memaksimalkan pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus menjaga perputaran nilai ekonomi di Gorontalo.
Dampak ekonomi yang dihasilkan juga diproyeksikan signifikan. Berdasarkan kajian pengembangan KEK Gorontalo yang disusun bersama tim ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB), kawasan ini berpotensi menciptakan tambahan 17.220 lapangan kerja baru dibandingkan skenario tanpa KEK. Pada 2051, sektor industri diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 129 ribu tenaga kerja, sekaligus menurunkan tingkat pengangguran hingga 1,12 persen.
Selain menciptakan lapangan kerja, KEK Gorontalo juga diproyeksikan menjadi katalis bagi pertumbuhan investasi, peningkatan pendapatan masyarakat, dan terbentuknya rantai nilai industri yang lebih kuat di Indonesia Timur.
AGIT: Gerbang Logistik Internasional dari Indonesia Timur
Jika KEK Gorontalo berperan menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi, maka PT Anggrek Gorontalo International Terminal (AGIT) menjadi infrastruktur strategis yang menghubungkan nilai tambah tersebut dengan pasar nasional dan global.
Sebagai pelabuhan internasional hasil proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), AGIT dikembangkan dengan konsep smart green port untuk memperkuat konektivitas logistik Indonesia Timur. AGIT dirancang sebagai gerbang logistik internasional yang menghubungkan potensi produksi Gorontalo dan Indonesia Timur dengan pasar nasional maupun global, sehingga mampu meningkatkan efisiensi distribusi, memperluas akses pasar, menarik investasi, serta memperkuat daya saing komoditas unggulan daerah.
Peran tersebut mulai terlihat melalui aktivitas ekspor yang terus meningkat. Sepanjang 2025, sebanyak 36 ribu ton molasses (tetes tebu) diekspor melalui AGIT ke Korea Selatan setelah sebelumnya menjangkau Filipina, Australia, Somalia, dan Malaysia. Sebanyak 64 ribu ton wood pellet (pelet kayu) juga diekspor ke Jepang dan Korea Selatan melalui fasilitas pelabuhan tersebut.
Peningkatan aktivitas ekspor ini menunjukkan peran strategis AGIT dalam membuka akses pasar internasional, sekaligus memperkuat posisi Gorontalo sebagai salah satu simpul perdagangan dan logistik penting di Indonesia Timur.
Menciptakan Nilai Tambah bagi Petani dan Nelayan
Selain membangun konektivitas dan infrastruktur, Gobel Group juga mendorong penciptaan nilai tambah melalui pengembangan akses pasar yang lebih luas bagi hasil pertanian Indonesia.
Salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi bersama Châteraisé yang menghubungkan hasil pertanian lokal dengan rantai pasok global melalui pendekatan farm-to-factory. Implementasi dari pendekatan tersebut telah menunjukkan hasil. Kakao yang dihasilkan oleh petani binaan Gobel Group berhasil diekspor ke Jepang untuk diolah menjadi produk coklat Châteraisé yang dipasarkan di negara tersebut. Melalui model ini, hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah atau bahan baku, tetapi menjadi produk bernilai tambah yang memiliki nilai jual lebih tinggi sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat hilirisasi yang saat ini menjadi prioritas nasional, yaitu memastikan lebih banyak nilai ekonomi tercipta di dalam negeri dan dapat dinikmati oleh masyarakat.
"Melalui PENAS XVII 2026, kami berharap kolaborasi antara petani, nelayan, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus memperkuat ketahanan pangan nasional. Bagi Gobel Group, upaya ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami juga mengundang peserta PENAS dan masyarakat Gorontalo untuk mengunjungi Pentadio, sebuah ruang kreasi dan wisata yang kami hadirkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkenalkan potensi Gorontalo kepada Indonesia dan dunia" tutup Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group. Imam ghozali
Editor : Redaksi