JOMBANG I harianduta.id – Aspirasi dari wilayah terluar Indonesia turut mewarnai Sidang Komisi Program dalam rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Aula Institut Agama Islam Bani Fatah (IAIBAFA) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).
Forum yang dipimpin langsung oleh Alissa Wahid tersebut menjadi ruang penting bagi para peserta untuk mengevaluasi pelaksanaan program organisasi sekaligus merumuskan arah kebijakan NU ke depan. Berbagai masukan dari daerah menjadi bagian dari pembahasan untuk menyusun peta jalan NU 2050.
Salah satu aspirasi datang dari Sekretaris PCNU Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Safar Mudatsir Furada. Ia menyampaikan kondisi dan tantangan dakwah NU di wilayah yang secara geografis berada jauh dari pusat-pusat perkembangan NU di Pulau Jawa.
Menurut Safar, keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya akses terhadap ulama atau kiai yang memiliki kapasitas keilmuan memadai menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memengaruhi keberlangsungan pemahaman Aswaja an-Nahdliyyah di wilayah Papua Barat.
"Di daerah kami sana sangat sulit menemui ulama atau kiai yang mumpuni, SDM kita terkait Aswaja an-Nahdliyyah ini kurang, sehingga mengkhawatirkan jika paham Aswaja an-Nahdliyyah ini luntur sedikit demi sedikit," kisahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PCNU Kabupaten Kaimana telah menyiapkan sejumlah lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pengaderan. Langkah itu diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat eksistensi komunitas muslim sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia NU di kawasan timur Indonesia.
Safar bahkan menyatakan kesiapan untuk menghibahkan lahan tersebut apabila PBNU memiliki program yang dapat menghadirkan pusat pengaderan, perguruan tinggi NU, maupun pondok pesantren di wilayahnya.
"Jika PBNU punya program pengkaderan Nahdliyyin, termasuk menghadirkan perguruan tinggi NU atau pondok pesantren di sana, kami siap hibahkan lahan, asal demi menjaga komunitas muslim NU yang mumpuni di daerah kami," tegasnya.
Aspirasi dari Kaimana tersebut mendapat perhatian dari Alissa Wahid. Ia mengapresiasi masukan yang disampaikan sekaligus menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar program-program NU tidak hanya terpusat di wilayah yang selama ini menjadi basis organisasi.
Menurut Alissa, kebutuhan penguatan kapasitas kader dan sumber daya manusia NU di daerah-daerah yang jauh dari pusat menjadi tantangan yang harus dijawab melalui kebijakan organisasi yang lebih merata dan berkelanjutan.
"Melalui sinergi yang erat antara pusat dan daerah, Muktamar Ke-35 NU ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis yang menjawab tantangan zaman secara berkelanjutan," tuturnya.
Masukan dari Kaimana memperlihatkan bahwa tantangan NU tidak hanya berkaitan dengan agenda internal organisasi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan dakwah, kaderisasi, pendidikan, dan penguatan sumber daya manusia di berbagai penjuru Indonesia.
Karena itu, peta jalan NU 2050 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen strategis, melainkan mampu diterjemahkan ke dalam program nyata yang menjangkau kader dan warga NU hingga wilayah-wilayah terluar, termasuk kawasan timur Indonesia.
Editor : Redaksi